Jakarta, mu4.co.id – Otoritas perbatasan Israel secara bertahap memulangkan jemaah Umrah Palestina beberapa hari terakhir di jalur keluar menuju Yordania.
Tercatat sebanyak 450 jemaah dikembalikan pada hari keempat, disusul 900 orang pada hari kelima dan 800 orang pada hari keenam. Kondisi itupun menyebabkan kebingungan dan kepadatan signifikan di Mahmoud Abbas City for Hajj and Umrah Pilgrims, sebuah fasilitas operasional jemaah haji dan umrah yang berlokasi di Jericho, Tepi Barat yang diduduki, serta memicu kekacauan perjalanan dan penumpukan jemaah di titik keberangkatan.
Diketahui, tindakan tersebut terjadi meski para jemaah telah mengantongi izin resmi dan agen perjalanan mematuhi jadwal keberangkatan yang ditetapkan.
Baca juga: Perkuat Pengamanan Haji 2026, TNI Kerahkan Personel Khusus Pelindung Jemaah
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina pun menilai langkah Israel tersebut sebagai bentuk pembatasan sepihak yang berdampak langsung pada jemaah.
Israel disebut melakukan tindakan “arbitrary and unjustified measures” atau “tindakan sewenang-wenang dan tidak dapat dibenarkan” yang mengganggu kelancaran perjalanan ibadah.
Pihak kementerian juga menegaskan bahwa seluruh jemaah yang terdampak sudah memenuhi persyaratan perjalanan, sementara penyelenggara perjalanan telah mengikuti jadwal keberangkatan yang disetujui.
“Kementerian menyatakan bahwa otoritas pendudukan Israel sepenuhnya dan secara langsung bertanggung jawab atas krisis ini dan penderitaan yang dialami oleh jemaah Umrah serta kebingungan bagi program perjalanan,” ungkap kementerian, Selasa (13/01/2026).
(himpuh.or.id)














