Media Utama Terpercaya

28 Maret 2026, 15:14
Search

Menkeu Purbaya Suntik Dana Rp100 Triliun ke Bank, Begini Tanggapan OJK

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Foto: Bay Ismoyo/AFP]

Jakarta, mu4.co.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambah penempatan dana pemerintah Rp100 triliun ke perbankan untuk menjaga likuiditas di tengah kenaikan yield obligasi. 

Ia menilai kenaikan yield menandakan kekeringan likuiditas bank dan menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas sektor keuangan.

Dengan tambahan tersebut, total dana pemerintah di perbankan mencapai sekitar Rp300 triliun yang ditempatkan di bank BUMN dan sebagian bank daerah dengan skema fleksibel. Dana tersebut bisa ditarik kapan saja dan kebijakan ini akan terus dievaluasi untuk meredam tekanan likuiditas serta menjaga stabilitas suku bunga.

Baca Juga: Bank Syariah Nasional Gandeng Muhammadiyah, Sinyal Kebangkitan Perbankan Syariah?

Menanggapi hal ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kebijakan ini dapat mempercepat penurunan suku bunga bagi masyarakat. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut langkah Kementerian Keuangan memberi ruang bagi bank menekan biaya dana, termasuk mengurangi pemberian special rate untuk deposan besar.

“Kalau saya sih welcome saja. Kebijakan fiskal dari Menteri Keuangan (Purbaya Yudhi Sadewa) itu membantu likuiditas. Kedua, suntikan dana akan menekan biaya bunga. Sekarang special rate itu sudah lumayan signifikan menurun,” ungkap Dian dikutip dari Republika, Sabtu (28/3).

Menurutnya, likuiditas yang lebih longgar membuat persaingan bank mencari dana murah tidak lagi seketat sebelumnya sehingga transmisi suku bunga acuan ke perbankan bisa lebih cepat. 

Baca Juga: Menkeu Tarik Dana Pemerintah yang ‘Nganggur’ Rp200 T di BI Untuk 6 Bank Nasional!

Dana pemerintah yang ditempatkan juga berpotensi dipakai bank membeli Surat Berharga Negara (SBN) untuk membantu pembiayaan negara dan menahan kenaikan imbal hasil obligasi. Namun, pembelian SBN hanya sementara karena fokus utama bank tetap pada penyaluran kredit ke sektor riil.

“Itu kan hanya temporary investment. Masa dibiarkan menganggur, lebih baik diinvestasikan. Namun, tujuan akhir bank adalah memberikan kredit,” ucapnya.

Ia menyebut imbal hasil SBN sekitar 6 persen masih lebih rendah dari bunga kredit 9–10 persen, sehingga saat permintaan kredit meningkat, dana bank akan kembali dialihkan ke pembiayaan.

(Republika)

[post-views]
Selaras