Media Utama Terpercaya

29 November 2025, 17:44
Search

Mendikdasmen Sebut Nilai TKA 2025 Jeblok. Ini Penyababnya!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik [TKA] 2025
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik [TKA] 2025. [Foto: kemendikdasmen.go.id]

Jakarta, mu4.co.id – Pada bulan November 2025 ini merupakan pelaksanaan utama Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa SMA sederajat di berbagai daerah di Indonesia. Siswa mengerjakan tiga mata pelajaran (mapel) wajib dan satu mapel pilihan.

Mapel wajib TKA yakni Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Sedangkan mapel pilihan meliputi mapel lanjutan dan mapel IPA dan IPS. 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memyampaikan bahwa hasil nilai TKA Matematika jenjang SMA 2025 terbilang buruk. Hal itu ia sampaikan dalam pembukaan Musyawarah Nasional ke-20 Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta, Rabu (19/11).

“Saya bocorkan di sini walaupun belum taklimat, TKA 2025 yang kita selenggarakan itu matematikanya juga jeblok-blok-blok-blok,” ujar Mu’ti dilansir dari kompas.com, Selasa (25/11).

Baca juga: Kabar Baik! Tanpa Perlu Keluar Kota, Mahasiswa Kalsel Kini Bisa Tes IELTS di ULM!

Ia menekankan penyebab TKA Matematika jenjang SMA itu nilainya jelek, bukan karena siswa SMA sederajat bodoh dalam mengerjakan soal matematika pada pelaksanaan TKA 2025, tapi ada beberapa sebab mulai dari buku yang digunakan untuk belajar, cara mengajar guru yang tidak membuat siswa ingin terus belajar matematika, hingga masalah rendahnya numerasi siswa di Indonesia.

“Kemampuan numerasi siswa-siswa di Indonesia masih rendah karena adanya anggapan bahwa Matematika adalah materi yang sulit,” ungkap Mu’ti.

Untuk itiu, saat ini pemerintah sedang menyiapkan buku agar anak-anak suka dengan pelajaran Sains, Teknik, Teknologi,  dan Matematika.

“Jadi STEM Itu buku-buku Science yang Science, Technology, Engineering, and Math itu kita kembangkan dalam buku-buku sains yang mudah, murah dan menyenangkan,” jelasnya.

Baca juga: Tes Jalur Mandiri ULM Dibuka, Rektor Ingatkan Waspada Modus Penipuan!

Menurut Mu’ti, STEM yang masih dianggap sulit ini akan berpengaruh pada terus menurunnya skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah kini mulai menggulirkan Gerakan Numerasi Nasional yang membangun budaya numerasi sejak dini dengan cara yang menyenangkan.

“Agar anak-anak Indonesia tidak hanya terampil berhitung, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, dan adaptif dalam kehidupan sehari-hari,” kata Mu’ti.

Ia juga menekankan bahwa penting mempelajari STEM dengan metode yang Mudah, Murah, dan Menarik (3M) dengan pendekatan yang lebih menyenangkan sambil bermain dan mendorong pembelajaran matematika diajarkan sejak Taman Kanak-kanak (TK).

Selain STEM yang masih dianggap sulit, pemerataan pendidikan juga berpengaruh dengan skor PISA Indonesia. Utamanya pemerataan pendidikan di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang sampai saat ini masih menghadapi keterbatasan sarana dan tenaga pendidik.

“Kesenjangan mutu pendidikan yang masih terlihat antar wilayah, antara sekolah negeri dan swasta, maupun antara kawasan perkotaan dan pedesaan,” ungkapnya.

(kompas.com)

[post-views]
Selaras