Iran, mu4.co.id – Presiden AS Donald Trump mengultimatum Iran untuk segera membuka Selat Hormuz, dengan tenggat 48 jam dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur energinya, termasuk pembangkit listrik, jika tidak terpenuhi. Batas waktu yang diberikan jatuh pada 23 Maret 2026 pukul 03:14 waktu setempat (Teheran) atau 24 Maret 2026 pukul 06.14 WIB.
“Jika Iran TAK SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka. DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, dikutip dari CNBC, Rabu (25/3).
Iran sendiri menyatakan tidak gentar terhadap ultimatum Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur listriknya.
Militer Iran menegaskan siap membalas dengan menargetkan fasilitas produksi senjata di Israel, infrastruktur energi hingga air di kawasan Teluk jika ancaman tersebut direalisasikan.
“Kebohongan … Amerika Serikat. Presiden telah mengklaim bahwa Garda Revolusi bermaksud untuk menyerang pabrik desalinasi air dan menyebabkan kesulitan bagi orang-orang dari negara-negara di kawasan itu. Kami bertekad untuk menanggapi ancaman apa pun pada tingkat yang sama seperti yang diciptakannya dalam hal pencegahan. Jika Anda menekan listrik, kami akan membalas serupa,” ujar Garda Revolusi Iran.
Sementara itu pada perkembangan baru ultimatum Trump pada Iran, pada Senin, Trump menunda tenggat ultimatum selama lima hari dan menyebut Iran masih memiliki satu kesempatan, serta mengklaim ada komunikasi menuju penyelesaian konflik.
“Saya telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari,” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Baca Juga: Di Tengah Konflik, Iran Siap Kenakan Tarif Kapal di Selat Hormuz
Namun, Iran membantah keras klaim tersebut dan menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS, bahkan menyebutnya sebagai informasi palsu untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak global.
Meski begitu, seorang pejabat Iran mengakui adanya penerimaan sejumlah poin dari AS, namun hal itu belum dapat disebut sebagai perundingan resmi.
Apakah AS Sudah Berupaya Membuka Selat Hormuz?
Sejauh ini, Amerika Serikat belum mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz dan masih mengandalkan serangan udara, salah satunya pada 18 Maret ketika militer AS membombardir lokasi peluncur rudal jelajah anti-kapal milik Iran di sekitar selat tersebut.
Presiden AS Donald Trump meminta negara-negara sekutu mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk melindungi jalur perdagangan dan memulihkan pasokan minyak global. Namun, sejumlah negara seperti Inggris, Jerman, Australia, Spanyol, dan Jepang menolak terlibat dalam langkah militer tersebut.
Baca Juga: Iran Batasi Selat Hormuz, Hanya Negara Tertentu Diizinkan Melintas
“Apa yang diharapkan Trump dari segelintir (kapal) fregat Eropa yang tidak mampu dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang begitu kuat?”
“Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya”
Menanggapi hal itu, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sebenarnya tidak membutuhkan bantuan dari negara-negara tersebut.
Kapal Mana Saja yang Masih Bisa Lintasi Selat Hormuz?
Sedikitnya 21 kapal dilaporkan diserang atau menjadi target sejak perang dimulai. Salah satu kapal yang meledak membawa empat ABK asal Indonesia, dengan tiga di antaranya masih belum diketahui nasibnya.
Baca Juga: Iran Pertimbangkan Buka Selat Hormuz, Syaratnya Transaksi Minyak Pakai Yuan China
Meski demikian, pelayaran di Selat Hormuz masih berlangsung terbatas, dengan hanya sekitar 99 kapal melintas selama bulan ini atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari.
Jumlah ini jauh menurun dibanding sebelum perang, dimana sekitar 138 kapal melintas setiap hari membawa sekitar seperlima pasokan minyak global.
(CNBC, BBC, IDN, Radar Banyuwangi)







![Bandara Internasional Soekarno-Hatta [CGK]](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_7819-300x177.jpeg)




