Media Utama Terpercaya

14 Januari 2026, 17:12
Search

Masyarakat Singapura Tinggalkan Kendaraan Listrik dan Kembali ke BBM. Ini Alasannya!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Minat konsumen pembelian kendaraan ICE kembali meningkat di Singapura
Minat konsumen pembelian kendaraan ICE kembali meningkat di Singapura. [Foto: AI/mu4.co.id]

Singapura, mu4.co.id – Minat konsumen pembelian kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) kembali meningkat di Singapura. Berdasarkan studi Ernst & Young (EY) menunjukkan sebanyak 32 persen responden di Singapura dalam dua tahun ke depan ingin membeli mobil ICE, naik dari pada 2024 yang hanya 26 persen.

Sebagaimana tercantum dalam EY 2025 Mobility Consumer Index (MCI), alasan utama peningkatan peningkatan tersebut karena kekhawatiran terkait infrastruktur pengisian daya dan biaya tersembunyi kepemilikan kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Perubahan konsumen kembali memilih mobil berbahan bakar bensin yang terjadi di Singapura ini mencerminkan tren global, tetapi para ahli memperkirakan data penjualan kendaraan EV pada tahun 2025 akan tetap tinggi.

Minat kendaraan ICE di Singapura ini masih rendah jika dibandingkan rata-rata global, karena secara global 50 persen responden akan membeli kendaraan ICE, meningkat dibanding 2024 yang hanya 37 persen.

Baca juga: Baterai Mobil Listrik Menipis? Begini Cara Aman Bertahan hingga SPKLU Terdekat

Meski Singapura dianggap sebagai pasar terdepan kendaraan EV tetapi kepercayaan konsumen belum sepenuhnya kuat.

Survei terhadap 300 calon pembeli kendaraan EV merasa masih ada kekhawatiran yang dirasakan terutama terkait keterbatasan jaringan pengisian daya dan mahalnya biaya penggantian baterai, mulai mengalahkan optimisme awal terhadap mobilitas ramah lingkungan.

“Jika hasil MCI tahun lalu mencerminkan optimisme yang kuat terhadap pembelian EV, survei tahun ini menunjukkan bahwa pembeli mobil di Singapura mulai mempertimbangkan kembali opsi kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE),” ujar Sriram Changali, EY-Parthenon ASEAN and Singapore industrials leader, dilansir dari Business Times, Selasa (13/1).

“Meredanya antusiasme tersebut menunjukkan bahwa konsumen kini mengambil pandangan kepemilikan yang lebih berhati-hati dan praktis,” lanjutnya.

Baca juga: Amankah Sering Fast Charging Mobil Listrik Saat Perjalanan Jauh? Ini Kata Ahli!

Meskipun terjadi penurunan, masih ada sebanyak 58 persen pembeli mobil di Singapura menyatakan minat untuk membeli EV dalam dua tahun kedepan, turun dari 73 persen pada 2024.

Angka tersebut masih lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 43 persen. Sementara itu 10 persen belum menentukan jenis kendaraan yang akan dibeli.

Tercatat,  Produsen EV asal China, BYD menjadi merek terlaris di Singapura pada 2025, bahkan mengungguli Toyota untuk pertama kalinya dengan pangsa pasar mencapai 19,7 persen.

Pada 2025, EV menyumbang 43 persen total pendaftrana mobil baru di Singapura. Sebagai perbandingan kontribusi EV, pada tahun 2024 tercatat sebesar 33,8 persen dan pada tahun 2023 sebesar 18,2 persen.

(Business Times, Berita Satu)

[post-views]
Selaras