Media Utama Terpercaya

10 Maret 2026, 17:27
Search

Malam I’tikaf Perdana Ramadhan 1447 H, Ustaz Riza Rahman Jelaskan Sejarah I’tikaf Nabi Muhammad

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Kajian i'tikaf Ramadhan 1447 H di Masjid Al Jihad Banjarmasin
Kajian i'tikaf Ramadhan 1447 H di Masjid Al Jihad Banjarmasin. [Foto: mu4.co.id]

Banjarmasin, mu4.co.id – Pada Ramadhan 1447 H kali ini, Masjid Al Jihad Banjarmasin kembali melaksanakan i’tikaf selama sepuluh malam terakhir Ramadan, seperti pada tahun-tahun sebelumnya. I’tikaf kali ini dimulai sejak malam ke-21 sampai malam ke-30 Ramadhan 1447 H (9-18 Maret 2026).

Demi menjaga kenyamanan jemaah selama i’tikaf, Takmir Masjid Al Jihad Banjarmasin menyediakan tempat ibadah yang sejuk dan nyaman terbuka 24 jam dan sarana untuk tilawah Al-Qur’an, do’a, dzikir dan i’tikaf. Tak hanya itu, sajian sahur juga disediakan bahkan ada kopi dan teh panas yang selalu tersedia.

“Untuk malam pertama i’tikaf ini kita sediakan sebanyak 1000 sajian sahur, dan menjelang akhir Ramadhan nanti akan ditambah menjadi 1500 hingga 2000 sajian sahur tergantung antusias jemaah yang melakukan i’tikaf. Dan juga kita sediakan kopi dan teh setelah kajian i’tikaf,” terang H Taufik Hidayat selaku Ketua Takmir Masjid Al Jihad Banjarmasin ketika diwawancari oleh reporter mu4.co.id pada Selasa (10/3).

Teh dan kopi gratis setelah kajian i’tikaf di Masjid Al Jihad Banjarmasin. [Foto: mu4.co.id]

Baca juga: Masjid Al Jihad Banjarmasin Kembali Mengajak Kaum Muslimin Hidupkan 10 Malam Terakhir Ramadan 1447 H Dengan I’tikaf

Salah satu rangkaian kegiatan i’tikaf ini adalah kajian i’tikaf yang dimulai setiap pukul 02.00 hingga 02.30 Wita. Untuk kajian I’tikaf malam pertama ini, disampaikan oleh Ustaz H Riza Rahman, Lc mengenai sejarah I’tikaf di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Ia menyampaikan berdasarkan hadis dari Abu Sa’id Al Khudri yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada mulanya beri’tikaf selama sebulan penuh sejak 1 Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar (malam kemuliaan) karena pada saat itu tidak ada sama sekali keterangan terkait malam tersebut.


إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ

“Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari no. 2018 dan Muslim no. 1167).

Baca juga: Masjid Al Jihad Banjarmasin Sediakan Sahur Bersama di Bulan Ramadhan 1447 H

Ustaz Riza mengatakan bahwa hadis ini menjelaskan bagaimana perjuangan nabi dan para sahabat untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Ia juga menjelaskan ada tiga amalan sunnah yang utama ketika beri’tikaf atau di bulan Ramadhan.

“Yang pertama adalah qiyamu taraweh, yang kedua adalah membaca Al-Qur’an, yang ketiga adalah do’a. Ini tiga amalan sunnah yang sangat diperintahkan jika kita berada di bulan Ramadhan,” ujar ustaz Riza dalam ceramahnya pada Selasa (10/3).

[post-views]
Selaras