Jakarta, mu4.co.id – Mahasisa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sebuah alat pembuat telur asin dengan nama Osmotic Manipulation and Near Infrared Controlled (Osmoinc) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI).
Ketua Tim Osmoinc ITS, Achmad Mahendra menyampaikan alasan inovasi ini muncul karena keresahan dengan metode konvensional pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Proses manual dengan kombinasi tanah liat dan garam memperlambat distribusi ke pasar, padahal permintaan setiap tahunnya meningkat.
“Proses selama 10 hingga 14 hari bukan waktu yang singkat untuk memenuhi kebutuhan ekspor dari negara lain,” ujar Mahendra dilansir dari ZCampus, Selasa (13/1).
Karena hal itu, tim Osmoinc mengembangkan inovasi ini dan mendorong UMKM agar tetap menjaga kualitas produk. Standar kebersihan dan kecapatan produksi menjadi hal penting dalam menghasilkan telur asin yang berkualitas dan menjadi fondasi supaya tekstur dari telur asin masir dan rasanya lebih seragam.
Baca juga: Canggih! Mahasiswa ITS Buat Alat yang Bisa Deteksi TBC Hanya dari Suara Batuk
Inovasi ini menggunakan sensor Near Infrared (NIR), untuk memanipulasi tekanan osmosis pada penggaraman telur dan memanfaatkan perbedaan konsentrasi garam di luar dan dalam telur, sehingga ada keseimbangan yang signifikan.
Dengan desain kasar berukuran 53,4 x 56,3 x 50,2 sentimeter per kubik, inovasi ini mempunyai alat kelengkapan yang aman. Kapasitas ukuran tersebut dapat menampung telur asin sebanyak 150 butir dengan durasi proses selama lima jam. Alat tersebut memerlukan daya listrik sebesar 1.650 watt dan frekuensi 50 Hz yang dilapisi material Galvanis dan SS316.
Ada empat tahapan penting dalam pembuatan telur asin menggunakan Osmoinc. Pertama, perendaman telur dengan asam asetat 15 persen selama 15 menit, kemudian setelah 15 menit direndam akan dikeluarkan dan dibilas dengan air bersih.
Selanjutnya perebusan telur dengan NaCl 30 persen dengan suhu 70 derajat celcius selama empat jam. Dan yang terakhir, dilakukan pengecekan kemasiran telur yang sudah direbus melalui NIR.
Meskipun terlihat kompleks, tetapi ada beberapa manfaat produksi telur asin yang menggunakan alat ini, seperti penetrasi garam yang lebih efisien dan daya simpan bisa lebih meningkat.
“Selain itu, telur asin yang semula cepat tumbuh mikroba, ketika menggunakan Osmoinc akan mengurangi kembangbiaknya sehingga mudah dikendalikan,” jelas Mahendra.
“Adanya perwujudan ini, harapannya mahasiswa ITS dapat terus semangat sehingga mampu mengembangkan inovasi yang lebih berdampak,” tambahnya.
(ZCampus)














