Media Berkemajuan

29 Februari 2024, 05:36

Krisis Populasi, Benarkah Jepang Akan Punah?

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Suasana Jepang [Foto: imigrasi.go.id]

Jepang, mu4.co.id – Desas-desus tentang Jepang akan punah terus berhembus seiring dengan pemberitaan bahwa ada penutupan sekolah yang telah berdiri setelah 76 tahun.

SMP Yumoto merupakan SMP yang terletak di Desa Ten-ei, Prefektur Fukushima, Utara Jepang itu akan ditutup secara permanen ketika tahun ajaran berakhir, Jumat (31/3/2023).

Hanya tersisa dua siswa bernama Eita Sato dan Aoi Hoshi yang menjadi lulusan terakhir di SMP Yumoto.

“Kami mendengar desas-desus tentang penutupan sekolah di tahun kedua kami, tetapi saya tidak membayangkan itu akan benar-benar terjadi. Saya terkejut,” kata Eita, dikutip dari Reuters.

Fenomena tutupnya sekolah terjadi akibat angka kelahiran di Jepang merosot lebih cepat dari yang diperkirakan. Jumlah ini meningkat terutama di daerah pedesaan seperti Ten-ei, area ski pegunungan dan mata air panas di Prefektur Fukushima yang telah merasakan depopulasi.

Perdana Menteri Fumio Kishida telah menjanjikan langkah-langkah untuk meningkatkan angka kelahiran, termasuk menggandakan anggaran untuk kebijakan terkait anak. Ia juga mengatakan menjaga lingkungan pendidikan sangat penting. Namun sedikit yang telah membantu sejauh ini.

Pada tahun 2022 angka kelahiran merosot di bawah 800.000, angka ini merupakan rekor terendah baru. Diperkirakan pemerintah menyebut depopulasi juga delapan tahun lebih awal dari yang diharapkan.

Sesuai dengan data pemerintah, sekitar 450 sekolah tutup setiap tahun. Antara tahun 2002 dan 2020, hampir 9.000 sekolah tutup untuk selamanya. Hal ini membuat daerah terpencil sulit untuk memikat penduduk baru yang berusia lebih muda.

Selain karena angka kelahiran yang rendah, hampir 1,5 juta orang di Jepang memilih mengisolasi diri dari masyarakat dan menjalani kehidupan tertutup yang sebagian besar terkurung di dalam tembok rumah mereka atau yang dikenal hikikomori.

Sejak 1980-an istilah ini sudah ada, hikikomori Jepang atau pengucilan ini merujuk pada sebuah kondisi, di mana orang telah diisolasi setidaknya selama enam bulan.

Mereka yang melakukan hikikomori hanya keluar untuk membeli bahan makanan atau untuk kegiatan sesekali, sementara yang lain bahkan tidak meninggalkan kamar tidurnya.

Menurut survei pemerintah yang dilakukan November 2022 oleh Lembaga Anak dan Keluarga, masalah ini sebenarnya sudah muncul sejak beberapa dekade terakhir tetapi Covid-19 semakin memperburuk keadaan.

Fenomena sosial ini menghasilkan sebuah spekulasi yang menilai hikikomori dapat mempengaruhi krisis populasi Jepang, hingga Perdana Menteri pun memperingatkan bahwa Jepang sedang berada di ambang ketidakmampuan dalam mempertahankan fungsi sosial. 

Sumber: cnnindonesia.com dan kabar24.bisnis.com

[post-views]
Selaras
error: Content is protected !!