Media Utama Terpercaya

20 Maret 2026, 06:59
Search

Khutbah Idul Fitri 1447 H, Ustaz Drs. H. Usman Abdhali Watik, M.Si di Halaman Masjid Al Jihad Banjarmasin

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Suasana lebaran penuh taqwa
Ilustrasi suasana hari raya [Foto: mu4.co.id]

“‘Idul Fithri: Berpakaian Taqwa, Berhiaskan Akhlaq Utama“

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ حَقَّ تُقَاتِهِ ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ .

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ ) : يَايُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ .

اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ، لَا إِلَهَ إِلَّا

اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Jemaah shalat ‘Idul Fithri yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jika kita berupaya menghitung karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada para hamba-Nya, maka pasti tak akan mampu menghitungnya, bukan saja karena demikian berlimpah karunia-Nya, tetapi karena Allah adalah zat Yang Maha Kaya, yang tak butuh apapun, manusialah yang membutuhkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Untuk itu mari kita bersyukur terus-menerus dan dalam kondisi apapun, baik senang dan susah, lapang dan sempit, manis dan pahit, karena nikmat Allah juga datangnya secara terus-menerus dan tak kenal cuti apalagi libur panjang. Barang siapa yang rajin bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya.

Pagi ini suasana hati kita terasa lapang, tenang, nyaman juga lega berlapis sesak karena tangis, antara gembira bercampur cemas, sekaligus haru berkelindan dengan bahagia. Kita bersedih karena Ramadhan yang sangat peduli dengan ampunan atas dosa-dosa kita, Ramadhan yang demikian banyak menyajikan Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Ramadhan yang demikian menggembirakan itu telah pergi, saat-saat penuh cinta ketika sahur bersama keluarga baru saja
lewat, nikmatnya tadarus dan tadabbur Al-Quran, ifthar, qiyamul lail, antusiasme sedekah, berbagi rasa peduli kepada sesama, baru saja pamit mohon diri – selamat jalan ya Ramadhan.

Kita cemas, akankah di tahun mendatang, Ramadhan kembali hadir menemani para hamba yang ringkih ini. (seperti kita tahu, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pun bersedih ketika Ramadhan meninggalkannya). Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mempertemukan kita semua dengan Ramadhan tahun depan.


Akhirnya sampai juga kita di hari raya Kemenangan, hari raya Berbuka, hari raya Fithrah/hari raya Kesucian Manusia. Inilah pagi yang berbeda dengan pagi sebelumnya, pagi seperti inilah yg disebut oleh Rasulullaah Shalallahu Alaihi Wassalam sebagai salah satu dari 2 hari raya dalam ajaran Islam yaitu ‘Idul Fithri, hari raya kembalinya kita semua ke asal muasal kejadian, ke titik awal, titik nol penciptaan semua manusia, yaitu manusia suci tanpa dosa, bersih dari noda, seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya tanpa membawa dosa.

Kita layak merayakannya dengan penuh syukur karena inilah hari kemenangan kaum Muslimin sedunia, kemenangan menaklukan godaan dan tipuan syetan serta tarikan hawa nafsu yang tak kenal berhenti merayu dan memprovokasi manusia. Mulai dari godaan untuk
memakan apa saja hingga godaan mengutamakan ambisi dunia ketimbang akhirat.

“Berbahagialah siapa saja yang telah menyucikan jiwanya, dan merugilah siapa saja yang mengotori jiwanya. “ (Qs. Asy-Syams,91: 9-10).

Judul khutbah ‘Idul Fithri kali ini adalah ‘Idul Fithri, Berpakaian Taqwa, Berhiaskan Akhlaq Utama.” Tujuan isi khutbah ini agar kita terhindar dari epidemi virus amoral, maraknya
kerusakan akhlaq/ moral di berbagai aspek kehidupan, dan agar kita tidak mudah terpesona/cepat kagum dengan kesalihan formal, serta agar kita semua tak terlena dari hiruk-pikuk suasana pesta ketimbang waspada (euphoria dalam selebrasi agama, tenggelam
dalam euphoria ketimbang mujahadah).

Karena kaum Muslimin cenderung melampiaskan hari-hari setelah Ramadhan sebagai ajang
pelampiasan daripada penyadaran, orang mudah pamer kesuksesan dan kekayaan ketika mudik ketimbang berbagi harta kepada kaum fakir dan miskin.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ

Jemaah shalat ‘Idul Fithri yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Seperti yang kita pahami dan yakini bersama bahwa tujuan kehadiran agama Islam di muka bumi ini adalah untuk menghadirkan suasana kehidupan yang bermoral, kehidupan yang beradab, kehidupan yang anggota masyarakatnya senantiasa berhiaskan akhlaq mulia/akhlaq utama di dalam setiap tindak tanduknya.

Sebagaimana Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah dengan gemilang memperbaiki akhlaq
masyarakat arab jahiliyah. “Innamaa buits tu liutammimaa makaarimal akhlaaq”, sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki akhlaq manusia, begitu penegasan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Sejarah memang tak pernah berulang, tapi kelakuan manusia dari zaman ke zaman selalu saja berulang, setiap orang dan setiap bangsa yang mengingkari dan membangkang perintah Allah, yang mengabaikan nilai-nilai moral selalu dibinasakan dengan berbagai macam adzab di dunia ini lebih lebih siksa yang pedih di akhirat kelak.

Sebaliknya setiap orang dan setiap bangsa yang tunduk pada aturan Allah dan menjunjung tinggi akhlaq utama, pasti memperoleh ganjaran berupa kehidupan yang baik (haayah thoyyibah), di dunia dan surga yang penuh kenikmatan di akhirat.

Inilah Sunnatullah, hukum sosial yang pasti terjadi, inilah hukum baja kehidupan, yang tak pernah meleset. Al-Quran dengan tegas mengabadikan 3 sosok nama terkenal sebagai pribadi yang berakhlaq rusak-buruk, “wa Qoruuna wa Fir’auna-wa Haamaana…” (Qs. Al-Ankabut, 29:39).

Qorun mewakili kategori sosial para orang kaya yang sombong, yang rela meninggalkan iman demi harta hingga lupa daratan, lupa teman, lupa sahabat, bahkan lupa asal usul (dulunya Qorun hidup miskin sekali, berkat do’a Nabi Musa as – lah ia menjadi kaya raya).

Adakah sekarang orang kaya yang mirip Qorun? Hadirin pasti punya jawabannya. Fir’aun mewakili kategori sosial para pemimpin yang arogan-feodal-gila hormat bahkan gila jabatan dan gila kekuasaan pengen terus berkuasa, ia rela menindas dan mengorbankan rakyatnya/ pengikutnya demi kursi kekuasaan.

Bagi pemimpin yang menjadi folllowersnya Fir’aun, jalan apapun akan ditempuh asal bisa
melanggengkan tampuk kekuasaannya, jika perlu mengkhianati amanah dan kawan sendiri, bahkan mengubah konstitusi pun bisa ia tempuh. Adakah sekarang pemimpin (di level apapun) yang mirip Fir’aun?

Jemaah merepresentasikan pasti kategori bisa sosial menjawabnya. Dari Haaman
kalangan para intelektual/profesional yang haus jabatan, suka cari muka, sosok penjilat, ilmu nya bukan untuk kepentingan umat tetapi justru untuk menyenangkan bos nya semata, ia intelektual yang bisa dibeli dan bisa direkrut untuk menjadi bempernya penguasa, ia mengiyakan semua keputusan bosnya tanpa kritik sama sekali.

Adakah sekarang intelektual/profesional yang mirip Haaman? Hadirin pasti punya jawabannya. Mereka semua dihinakan dan dibinasakan Allah, di dunia ini.

Di zaman modern sosok-sosok berakhlaq rusak selalu berakhir hina dan buruk sekali, sebut saja Hitler, Stalin, Mussolini. Dan kita yakin sosok-sosok seperti Presiden AS dan PM Israel yang
dikecam oleh banyak negara dan dunia Islam serta rakyatnya sendiri itu juga akan dihinakan dan dibinasakan Allah, di suatu waktu dan di suatu tempat nanti. Kekuasaan bangsa Romawi, Yunani dan Persia juga binasa dan punah karena para pemimpinnya hidup mewah dan
tak bermoral. Kejayaan peradaban Islam di Spanyol (Andalusia) juga tak luput dari adzab Allah karena terlena dengan perhiasan dunia dan tak mengindahkan moral, padahal sudah berjaya selama 700 tahun.

Di tanah air kita ini, hampir tiap hari kita menyaksikan sosok sosok berakhlaq busuk-jahat, dengan santainya dan dengan wajah seperti orang tak berdosa rela menguras kekayaan negeri untuk kepentingan pribadi-keluarga-kelompoknya.

Ada pegawai pajak, hakim, jaksa, polisi, direktur dan pegawai BUMN, pengusaha, politisi, menteri, gubernur, bupati, walikota, bahkan kepala desa yang tega menggadaikan laut demi konglomerat. Dan mereka semua terhina, jatuh kehormatan diri dan keluarganya, serta hancurlah karir dan masa depannya.

Bangsa ini juga harus diingatkan akan adanya sosok-sosok sederhana yang punya jabatan tinggi namun tetap bermoral tinggi berakhlaq utama. Ada Muhammad Hatta (Bung Hatta sang pendiri Indonesia), pribadi bersahaja yang punya kejujuran-integritas tingkat tinggi, ia pantang menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri dan keluarganya.

Ada sosok jenderal polisi Hoegeng, polisi yang terkenal anti suap. Ada sosok hakim agung
yang sangat ditakuti oleh para koruptor, Artidjo Alkostar dan Bismar Siegar. Ada sosok jaksa agung-Baharuddin Lopa, yang tetap pergi naik angkot ke acara resepsi pernikahan karena baginya mobil dinas sebagai fasilitas negara tak boleh digunakan untuk kepentingan
pribadi atau keluarga.

Maka benarlah Sunnatullah itu bahwa setiap orang dan setiap bangsa yang mengabaikan nilai-nilai moral/akhlaq utama pasti jatuh terhina dan hancur berkeping-keping. Sebaliknya setiap
orang dan setiap bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral/akhlaq utama pasti hidup terhormat, kokoh, jaya, bahagia, dan selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pada puncaknya, hadirin sekalian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dipuji oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan karena beribadah sholat malam sampai bengkak kakinya, bukan karena menang diberbagai peperangan, bukan karena berhasil menaklukan Makkah, bukan karena daya sebar Islam yang fenomenal, tetapi beliau dipuji Allah karena akhlaqnya yang benar benar agung-mulia, “wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim” (Qs. Al Qalam,68:4), “sungguh engkau Muhammad, benar-benar berakhlaq yang agung.” Benang merahnya adalah jika kita ingin dipuji Allah disayang Allah-dirahmati Allah-dilindungi Allah, maka tirulah akhlaq
beliau.

Jamaah shalat ‘Idul Fithri yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Mengapa orang yang beriman dan bertaqwa itu selalu Salaam (damai/aman) dan Salaamah (tentram), karena mereka
berbuat, bertindak, bertingkah, berkata, beramal sesuai dan selaras serta harmoni dengan FITHRAH-nya. Nyambung antara tindakan perkataan dengan asal kejadiannya yang cenderung menyukai kebaikan dan kebenaran, manusia ini aslinya adalah suci menyenangi segala hal yang baik dan benar.

Lihatlah ribuan para penari “tari Saman”, betapa elok dipandang mata ketika gerak tangan dan kepala mereka serentak kompak, disana ada harmoni keselarasan antara irama dan gerak. Segala yang selaras pasti memunculkan pemandangan yang indah, memukau, dan menentramkan. Sebaliknya jika terjadi kesenjangan-ada gap yang lebar antara Fithrah dan perbuatannya, akan muncul disharmoni/disonansi-ketidakselarasan, kekecewaan, keguncangan
batin, kegalauan, bahkan penyesalan yang mendalam dan amat menyiksa batin. (hampir sama dengan knalpot motor baru yang baru datang dari showroom, suaranya halus nyaris tak terdengar, motor itu masih sesuai dengan “fithrahnya”, tapi jika kemudian knalpot motor itu diganti dengan knalpot bising-memekakkan telinga, maka motor itu sudah jauh dari “fithrahnya”. Rasulullaah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika ditanya apakah itu kebajikan dan dosa, beliau menjawab “Kebajikan adalah sesuatu yang membuat hati dan jiwa tenang/tentram.

Dan dosa adalah sesuatu yang terasa tak karuan dalam hati dan terasa bimbang di dada” (HR. Ahmad) . Artinya menurut hadits ini, dosa adalah sesuatu yang dirasakan bertentangan dengan hati nurani, sesuatu yang dalam jangka pendek membawa kesenangan, tapi dalam jangka panjang membawa kehancuran. Hanya orang yang hatinya sudah gelap-gulitalah (zhulmani) yang merasa nyaman dengan dosanya. Bagaimana mungkin orang yang berdosa merasa cemas jika hatinya sudah menjadi rumah bagi syetan dan hawa nafsunya.

Kata Fithrah berarti kesucian asal manusia atau menurut Ar-Raghib Al-Ashfahani, Fithrah itu menciptakan sesuatu dan mengadakannya dalam bentuk yang sesuai dengan bidangnya
masing-masing. ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) Fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut Fithrah itu. Tidak ada perubahan pada Fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (Qs. Ar-Ruum,30: 30).

Ini adalah isyarat dari Allah terhadap fithrah yang Dia ciptakan dan letakkan pada diri manusia,
yaitu berupa pengetahuan mengenai sang Penciptanya. Fithrah dari Allah bermakna potensi yang diletakkan Allah pada diri manusia untuk beriman kepada-Nya, maka jika manusia ditanya siapakah yang menciptakan mereka, mereka akan menjawab, Allah Swt. (Qs.
Az-Zukhruf, 43: 87)

Ibarat kata, Allah Subhanahu Wa Ta’la memang telah sejak dini menginstall FITHRAH ke dalam diri manusia. Tahun boleh berganti, zaman boleh berubah, millenium boleh bertukar, tapi manusia tetap sama selama-lamanya sesuai dengan desain Allah Swt. Manusia merupakan makhluk yang selalu merindukan kebenaran dan akan merasa tentram apabila mendapatkan kebenaran itu. Sebaliknya, kalau dia tidak mendapatkannya, dia akan terus gelisah. Maka ‘Idul Fithri berarti hari raya merayakan kembalinya Fithrah, setelah hilang dan diketemukan kembali atau berhasil diketemukan. Ia hilang karena godaan ambisi menguasai dunia dan asesorisnya (harta, jabatan, anak keturunan, followers), ia redup dan lenyap oleh ketidakmampuan manusia menahan diri dari tarikan tipuan dunia dan perhiasannya, memang benarlah adanya bahwa kelemahan terbesar manusia adalah ketidakmampuan menahan diri dan berpandangan pendek (suka yang serba instant).

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (wahai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan akhirat).” (Qs. Al Qiyamah,75: 20-21). Maka sesungguhnya ibadah puasa melatih kita untuk menahan diri dari godaan-godaan yang dilambangkan dengan
makan, minum dan hubungan biologis.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ

Jemaah shalat ‘Idul Fithri yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Berkaitan dengan itu semua, agar Fithrah kita tetap terpelihara terawat-suci, maka sangat masuk akal sekaligus pas-tepat-cocok, jika tema sentral ajaran Islam-hal yang paling sering disinggung ditekankan oleh Al-Quran adalah persoalan TAQWA (Al-Quran menyebut 238 kali), sampai-sampai tidaklah sah khutbah Jum’at jika tanpa adanya pesan Taqwa. Seluruh ajaran Al-Quran tujuannya agar kita menjadi sosok pribadi yang bertaqwa. Semua ritual ibadah dalam Islam, muaranya supaya kita senantiasa bertaqwa diamanapun kita berada-Laallakum Tattaquun – Ittaqillaaha haitsu maa kunta. Lalu, mengapa TAQWA ini menjadi inti ajaran Islam? setidaknya karena 9 hal:

  1. Urusan paling utama/prioritas adalah TAQWA (QS.3:186), sehingga jadi prioritas hidup orang-orang yg punya pikiran cerdas (QS.5:100) dan akal sehat (QS.2:197).

2. Sebaik-baik bekal MUDIK adalah TAQWA (QS. 2:197).

3. Petunjuk Al-Quran memang diperuntukkan bagi orang berTAQWA (QS.2:2).

4. Amal-amal (karir profesional-kehidupan) orang berTAQWA akan diperbaiki oleh Allah dan dosanya diampuni (QS.33:70-71).

5. Variabel utama/faktor penting yg menyebabkan seseorang masuk surga adalah KETAQWAANnya (QS.3:133) dan hadits : Taqwallaah dan Husnul Khuluq.

6. Ukuran kemuliaan seseorang-manusia terletak pada keTAQWAANnya (QS.49:13). Manusia ideal, kekasih Allah (QS. 8:34).

7. Jalan keluar-solusi dari segala persoalan hidup di dunia hanya diberikan kepada orang yang berTAQWA (QS. 65:2-5).

8. Rezeki yang tak terduga (tanpa terlintas dalam pikiran manusia) juga untuk orang yang berTAQWA (QS. 65:3).

9. Kualitas suatu ummat/bangsa ditentukan oleh nilai/derajat keTAQWAAN mereka (QS.7:96).


Muhammad Abduh pernah berkata: ”Saya telah pergi ke dunia barat dan saya melihat Islam tapi bukan kaum Muslim, lalu saya kembali ke dunia timur dan saya melihat kaum Muslim tapi bukan Islam.”

Kalaulah kita mau tafakkur sejenak, dimanalah gerangan suatu negeri Muslim yang dilimpahi berkah (kebaikan, keamanan, kedamaian, keadilan, kebahagiaan, kemajuan, kesejahteraan,
kesuksesan, dst) dari langit dan bumi itu? “ Tolong tunjukkan 1 komunitas Muslim yang mewakili kehebatan Islam itu, tanya Renan kepada Muhammad Abduh?” 100 tahun kemudian, George Washington University menyusun Islamicity Index untuk mengukur kualitas 200 negara di dunia yg paling mendekati nilai-nilai Islam/Islami (Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah, kejujuran, keadilan, kebaikan, kebersihan, kedamaian, ketepatan waktu, empati, toleransi, tolong menolong, cinta ilmu, dst). Hasilnya negeri-negeri Muslim ada di peringkat 100-200, peringkat terbaiknya diduduki oleh negara-negara Skandinavia, Indonesia ada di peringkat 140.
Inilah salah satu bukti bahwa kita tinggal di negeri yang hanya bisa berenang di pinggir peradaban karena kita sedang kehilangan keTAQWAAN. Kita meninggalkan ajaran luhur TAQWA, seolah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sedang menahan keberkahan-Nya. Padahal Allah sudah berjanji “Sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami bukakan pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi…” (Qs. Al-A’raaf, 7:96).


Inti TAQWA adalah sikap jiwa yang meyakini – menyadari sepenuhnya bahwa Allah menyaksikan-melihat-mengawasi memperhatikan-memantau-mencatat segala gerak-gerik kita
sebagai hamba-Nya, dimanapun kita berada – ada Allah di dekat kita, wahua ma’akum aina maa kuntum (QS. Al-Hadid,57: 4), sungguh jika ada biji sawi yg diletakkan di atas batu, atau ditaruh di langit tinggi atau di dasar bumi, Allah akan mengetahuinya, Dia maha mengetahui apa-apa yang kalian kerjakan (QS.31:16), dan Dia mengetahui apa-apa yg ada di daratan dan di dalam lautan dan tak ada sehelai daun yg gugur ke bumi, kecuali Allah mengetahuinya
(QS.6: 59 ).

Konsekwensi logisnya-akibatnya kita akan terdorong untuk menyeleksi-mensortir-memilah-memilih perbuatan perbuatan dan perkataan-perkataan yang akan mengundang Ridha/perkenan Allah, sebaliknya kita akan menyingkirkan menghindari-membuang jauh segala amal yg dapat mengundang kebencian-murka Allah Swt. ( Allah itu omnipresent-omniscience omnipotent)

Maka ujung-muara ajaran TAQWA adalah Al-Akhlaqul Al Karimah-budi pekerti mulia-perilaku utama-etika yang indah manusia yang berbudi bahasa, manusia yang beradab, manusia yang
terpuji, manusia yang perbuatannya terpuji bagi sesamanya. Tak ada TAQWA tanpa Akhlaqul Karimah, karena misi utama Rasul Mulia adalah menyempurnakan Akhlaqul Karimah. Allah tak
pernah memuji fisik Rasulullah, ketika Rasulullah bengkak kakinya karena lama berdiri ketika shalat, Allah tak memujinya, ketika beliau menaklukan Makkah dengan gemilang, Allah tak memujinya, ketika beliau haji dan ‘umrah, Allah tak juga menyanjung kekasihnya itu,
Allah tak pernah memuji ibadah ritual Rasulullah Saw, kapankah Allah memuji beliau?, satu-satunya puncak pujian Allah adalah wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim. (Qs. Al-Qalam, 68:4)
Seolah Allah ingin menyampaikan pesan: Tak guna ibadah jika tak berbudi bahasa, tak guna tunggak-tunggik shalat, jika miskin dari Akhlaqul Karimah (faqir spiritual), tak guna puasa, jika mulut masih saja menyakiti perasaan sesama muslim, entah karena banyak membully, mengejek, merendahkan martabatnya, menggunjing, menfitnah, mengadu domba, dst. Jika kita ingin mendapat pujian dari Allah Swt, ingin disayang Allah dan ingin dirahmati Allah, maka
tak cukup dengan menampakkan dan mempertontonkan kesalehan formal, sebatas rutinitas ritual ibadah sehari-hari (ibadah mahdhah) karena bisa terjerumus kepada formal piety trap (jebakan kesalihan formal) yaitu menganggap bahwa jika seseorang sudah rajin melakukan ritual ibadah formal seperti sholat, puasa, zakat, haji, ‘umroh dll, maka sudah pasti shalih/shalihah padahal betapa banyak orang yang rajin beribadah justru menjadi dalang kemaksiatan dan kejahatan moral, apalagi jika dibumbui dengan penampilan fisik (bisa
pakaian-bisa juga cara berbicara yang banyak menggunakan bahasa arab) yang terkesan shalih, ternyata sejatinya adalah pelopor kemaksiatan dan kemunkaran. Bukankah ajaran Islam sangat anti terhadap kesalihan formal, kesalihan yang menganggap bahwa ibadah sebagai tujuan akhir (padahal ibadah adalah sarana mendidik diri agar menjadi pribadi bertaqwa), lihat misalnya kutukan Allah terhadap orang-orang yang sholat tetapi tak menunaikan pesan pesan substansial dari ibadah sholat yaitu menyantuni para dhuafa (Qs. Al-Ma’un, 107: 3 ). Lihat pula Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 177, bahwa kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi,memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji apabila berjanji, sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Bahkan Allah mengingatkan kita agar jangan sampai kita merusak sedekah kita dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti perasaan si penerima sedekah (Qs. Al-Baqarah, 2: 264) Maka agar kita tidak terjebak kepada kesalehan formal, dibutuhkan sesuatu yang lebih tinggi dari sekedar formalitas ritual ataupun pengetahuan yang tinggi yaitu pakaian Taqwa. TAQWA adalah sebaik-baiknya pakaian (Qs. Al-A’raaf,7: 26). Pakaian Taqwa inilah yang bisa menyelamatkan kita dari serbuan godaan ambisi
dunia/cinta dunia, tipuan nafsu, dan perlombaan membangga banggakan harta, anak keturunan, jabatan dan pengikut (semua itu disebut dengan penyakit “wahn” atau kelewat cinta sama dunia).

Pakaian Taqwa-lah yang bisa membawa kita selamat mengarungi bantera kehidupan dunia dan sejahtera menyambut kehidupan akhirat. Pakaian Taqwa-lah yang membuat kita bisa menghiasi diri dengan Akhlaq Utama/Akhlaq Mulia. Pakaian Taqwa lapisan pakaian yang paling penting dan utama yang harus melekat dalam keseharian kita. Baju dalam yang kita kenakan berfungsi sebagai penutup aurat, baju luar yang kita pakai berfungsi sebagai perhiasan agar tampak indah karena Allah menyukai keindahan, kedua lapis baju ini tak akan ada gunanya jika tak dilapisi dengan pakaian Taqwa yang berfungsi memelihara jiwa kita-melindungi ruhani kita dari
rongrongan hawa nafsu. Banyak orang yang pakaiannya serba mewah dan indah, ternyata kosong, hampa dari pakaian Taqwa, orang seperti ini, kata Rasulullah Saw, sama dengan berpakaian tapi sesungguhnya mereka telanjang, kaasiyaatin ‘aariyatin.

Apa sajakah bahan-bahan pakaian Taqwa itu? Atau apa sajakah karakteristik TAQWA itu? Dengan sangat operasional dipaparkan oleh Al-Quran karena demikian gamblangnya hal itu sehingga tidaklah dibutuhkan ulama untuk menjelaskannya, orang awam-pun bisa mudah memahaminya, apa itu: (Qs. Al-Baqarah, 2 : 1-5)

  1. Beriman kepada yg ghaib;
  2. Berhubungan akrab dengan Allah Swt melalui Sholat;
  3. Gemar membantu sesamanya/gemar berderma;
  4. Meyakini adanya hari akhirat;
  5. Gemar bertaubat.

Demikian pula yang tertera pada Qs. Ali-Imran, 3: 134-135, pakaian Taqwa itu bahannya adalah membelanjakan harta di jalan Allah baik dalam situasi lapang maupun sempit, menahan marah,
memaafkan sesama, cepat sadar jika khilaf melakukan dosa/maksiat dan segera bertaubat, dan tak lagi mengulangi dosa yang sama untuk selama-lamanya. Maka sesungguhnya pakaian Taqwa itu bermakna memahami dan menyadari bahwa disamping khidmat menunaikan ibadah
ibadah ritual, juga sudah seharusnyalah bisa khidmat melaksanakan ibadah-ibadah yang berdampak sosial atau biasa disebut dengan amal shalih/amal sosial yang bentuk konkritnya antara lain adalah:

  1. berikan makanan kepada orang-orang miskin;
  2. kunjungi tempat-tempat kaum fakir dan miskin dan berikan bantuan;
  3. bantu orang-orang yang sakit dengan membayarkan biaya pengobatan dan penuhi keperluan keluarganya;
  4. berikan pertolongan baik kepada orang yang meminta pertolongan maupun yang tidak meminta;
  5. jadilah pendengar yang baik kepada orang yang mengadukan deritanya kepada anda;
  6. pelajari dan sebarkan ilmu, yang membuat hidup orang lebih baik dan lebih mulia;
  7. bantu semampu anda lembaga-lembaga yang bergerak dalam pembebasan dan pembelaan orang-orang yang tertindas (lemah secara hukum/ekonomi);
  8. lakukan amar-ma’ruf nahi munkar dengan cara yang selembut-lembutnya;
  9. kunjungi RS, LP, panti asuhan, panti jompo dan tempat tempat dimana penghuninya “sedang hancur hatinya”;
  10. usahakan dengan cara apapun dan dengan kemampuan apa pun yang anda miliki utk memasukkan rasa bahagia kepada hati orang di sekitar Anda. (entah dengan memberinya
    makan dan pakaian, atau membayarkan hutang-hutangnya)

Disamping itu pakaian Taqwa juga menuntun kita untuk berhati-hati terhadap pemahaman yang agaknya sedang menjadi paradigma dominan di kalangan kaum Muslimin bahwa ibadah dapat menghapus dosa-dosa manusia, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Memang benar terdapat banyak hadits shahih yang bersifat targhib (menggembirakan, menghibur, memotivasi) agar tak putus asa terhadap dosa yang sudah ditabung selama ini karena Allah Maha Pengampun.

Namun pemahaman inilah yang justru riskan dan berbahaya karena bisa memicu sikap memandang enteng perbuatan maksiat/munkar/keji, tersimpan persepsi miring “berbuatlah dosa toh nanti mudah diputihkan dengan ibadah sholat, puasa, sedekah, haji, ‘umroh, dll. Pemahaman sepotong inilah yang membuat seorang Muslim tak kunjung memiliki Akhlaq Terpuji.

Pemahaman yang benar dan utuh adalah disamping yang tersebut tadi, bahwa dosa dapat menghanguskan-menghapuskan merontokkan pahala amal ibadah ritual tadi. Hal ini mengindikasikan bahwa ibadah ritual dapat menghapus dosa sepanjang ibadahnya diterima oleh Allah Swt, nah bagaimana mau diterima ibadahnya jika disamping khusyu sholat juga khusyu mengambil hak orang lain/menzhalimi orang lain. Jadi ada syarat dan ketentuan berlaku. Pemahaman Taqwa yang utuh seperti inilah yang akan mengantarkan seseorang memiliki Akhlaq Tinggi, Akhlaq Utama, AkhlaqTerpuji.

Jamaah shalat ‘Idul Fithri yang dimuliakan Allah Swt, Pakaian TAQWA-lah yang mendorong dan menuntun kita untuk berani menyucikan 4 hal :

  1. Penyucian Diri-tazkiyatun nafs, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengingatkan manusia bahwa diri mereka telah tercemari akibat terlalu mengutamakan dunia, padahal akhirat lebih baik dan kekal (QS. Al-A’laa,87: 14-19). Orang-orang Arab jahiliah mulai berubah, lebih memilih kesucian walaupun harus kehilangan nyawa. Ingatlah Sumayyah, wanita tua renta-lemah, yang disiksa sedemikian rupa namun tetap menjaga dirinya dari kotoran kemusyrikan, yaitu bertuhankan berhala.
  2. Penyucian Moral-tazkiyatul farj, bersedia mengakui kesalahan dan menerima hukuman. Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Dawud disampaikan ada wanita Arab Badui
    Ghamidiah yang datang kepada Rasulullah Saw agar dihukum rajam karena telah berzina.
  3. Penyucian Harta-tazkiyatul mal, Fatimah putri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam punya 5 potong roti untuk berbuka, tapi orang miskin datang dan beliaupun menyerahkan semuanya, ia habiskan malam dalam keadaan lapar. ‘Aisyah pernah dikirimi uang oleh khalifah Abdurrahman bin Auf dan Ummul Mu’minin itu
  4. menyerahkan uangnya kepada orang yang lebih membutuhkan tanpa menyisakan sedikitpun untuk dirinya. Penyucian Kekuasaan-tazkiyatus sulthah, kita tidak dilarang
    berkuasa, yang dilarang adalah mencemari kekuasaan dengan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok dan golongan. Menyucikan kekuasaan berarti menjalankan
    kekuasaan dengan penuh amanah-mendahulukan kepentingan masyarakat (sultahaanul qaumi khaadimuhum pemimpin sebuah kaum adalah pelayan kaumnya) secara
    keseluruhan sesuai dgn tuntunan Allah Swt. Pada musim paceklik, Umar bin Khaththab, selama itu ia tidak mau makan kecuali roti dan minyak samin, hingga kulitnya tampak hitam, orang banyak berkomentar, Umar hanya menjawab: “Aku adalah kepala negara yang paling jahat, kalau aku kenyang, sedangkan rakyatku menderita kelaparan”. Jika kekuasaan tak mampu manahan nafsu maka tunggulah saat kehancuran seperti yang terjadi pada Imperium Romawi dan Dinasti Abbasiyah. Kedua kekuasaan tersebut, punya ciri yang sama yaitu para elitenya, tokoh-tokohnya, para pejabatnya hidup berfoya-foya di atas penderitaan rakyatnya.

Jika sudah dibersihkan maka waspadalah terhadap perusak kesucian kita, hati-hatilah terhadap bakteri dan virus yang bisa membuat akhlaq kita membusuk, jangan mau jadi anak-buahnya hawa nafsu, apa saja itu: (“janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah”) (QS. Shaad,38:26)

  1. Bermegah-megahan (harta dan anak), QS. At-Takaatsur. Harta tak boleh dimakan sendiri. Konsumtivisme dan hedonisme telah menjadi gaya hidup yang mewabah di mana-mana dengan maraknya aplikasi belanja online, dulu “shopping by visiting” sekarang “shopping by clicking”.
  2. Sombong (QS. Luqman,31: 18-19), merasa mulia hanya karena kekayaan, kepintaran, jabatan dan followers. Akhirnya, kita semua memang harus mudik/pulang, bersiaplah untuk mudik ke kampung abadi, kampung yang paling aman, paling indah, paling menawan, paling menentramkan, paling serba ada, dan paling membahagiakan, itulah Jannatun Na’iim, surga yang penuh kenikmatan sejati dan abadi. Untuk sampai disana,
    persiapkan bekal mudik dengan sungguh-sungguh, jangan dengan sisa-sisa waktu dan sebaik-baiknya bekal untuk mudik ke tempat abadi-alam akhirat yang kekal adalah pakaian Taqwa. (QS. Al Baqarah, 2: 197)

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ

Jemaah shalat ‘Idul Fithri yang dirahmati Allah Swt, Mudah-mudahan ‘Idul Fithri tahun ini membawa kita semua menjadi lebih mawas diri, sensitif terhadap godaan maksiat dan
syubhat sehingga tetap terpeliharalah kefithrian diri kita, lebih meningkat kualitas Taqwa kita kepada Allah Swt dan lebih terpujilah Akhlaq kita. Yaa Robbanaa, Wahai zat yang maaf-Nya lebih sering dari siksa Nya, Wahai zat yang ridha-Nya lebih besar dari murka-Nya, Wahai
zat yang menganugerahkan ampunan pada makhluk-Nya, Wahai zat yang selalu menerima taubat hamba-Nya, Naungi kehidupan kami dengan rahmat-Mu, Perbaiki kehidupan kami dengan petunjuk-Mu, Temanilah kehidupan kami dengan ampunan-Mu, Anugerahilah
kehidupan kami dengan rezeki-Mu yang tiada batas, Yaa Robbanaa, kami lemah dan faqir, kami amat sangat membutuhkan-Mu, Wahai Yang Maha Tak Butuh Apapun, kuatkan diri kami dalam menjalani hari-hari kami dengan segenap Pertolongan-Mu. Robbanaa, ampuni segala khilaf dan sebanyak apapun dosa kami… Naungi kehidupan kami dgn rahmat-Mu. Ya Allah, sesungguhnya
kami memohon kepada-Mu akan cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan kami memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarkan kami kepada cinta-Mu. Ya Allah jadikanlah cinta-Mu lebih kami cintai daripada diri kami dan keluarga kami. Hiasilah kami dengan urusan-urusan yang makin mendekatkan kami kepada-Mu, hindarkan kami dari segenap urusan yang membuat kami makin jauh dari-Mu.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ يُجِيبُ الدَّعْوَاتِ فَيَا قَاضِي الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةٌ فِي الدِّينِ وَعَافِيَةٌ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَةٌ في الرِّزْقِ ، وَتَوْبَةٌ قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةٌ عِنْدَ المَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَتِنَا برِضَاكَ وَفَضْلِكَ الكَرِيمِ ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ . رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى

Billaahi fii Sabiilil Haqq, Nashrum Minallaahi wa Fathhun Qariib.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ يُجِيبُ الدَّعْوَاتِ فَيَا قَاضِي الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةٌ فِي الدِّينِ وَعَافِيَةٌ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَةٌ في الرِّزْقِ ، وَتَوْبَةٌ قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةٌ عِنْدَ المَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَتِنَا برِضَاكَ وَفَضْلِكَ الكَرِيمِ ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ . رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى

[post-views]
Selaras