Bandung, mu4.co.id – Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah yang membutuhkan terutama wilayah yang terdampak bencana, Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan sebuah alat pengeolah air keruh menjadi jernih yang disebut Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile.
Kapasitas air yang dapat diproduksi oleh IPA Mobile sebesar 2 liter per detik atau sekitar 7.000 liter per jam. Dalam kondisi normal, alat ini dapat memenuhi kebutuhan air minum dan sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK) sekitar 200 kepala keluarga atau setara dengan 800 orang, dan bisa ditingkatkan menjadi 1.200 hingga 1.600 orang di keadaan darurat seperti pascabencana.
IPA Mobile dapat mengolah berbagai sumber air baku sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Begitu juga dengan hasilnya yang telah memenuhi standar air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/SK/IV/2010.
Meski demikian, tetap dianjurkan air tersebut terlebih dahulu dimasak sebelum dikonsumsi. Berbagai sumber air dapat diolah dengan air ini, seperti air dari sungai, danau, situ, maupun embung.
Ketua Tim, Prof. Dr. Ir. Bagus Budiwantoro dari Kelompok Keahlian Perancangan Teknik dan Produksi, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB menjelaskan bahwa IPA Mobile memang dirancang untuk masyarakat yang sulit untuk mendapatkan layanan air bersih.
“IPA Mobile ini bersifat portabel dan dirancang untuk digunakan di wilayah dengan keterbatasan akses air bersih maupun dalam kondisi darurat. Perangkat ini dikembangkan secara kolaboratif oleh tim lintas keahlian di ITB,” ujarnya dilansir dari laman resmi itb.ac.id, Selasa (6/1).
Baca juga: Inovasi Mahasiswa UPI Hadirkan Motor Hidrogen, Wujudkan Langkah Pemerintah Menuju Energi Bersih
IPA Mobile tersebut telah membantu pemenuhan air bersih di Kota Langsa, Provinsi Aceh yang sebelumnya telah ditimpa bencana. Pengiriman tersebut merupakan hasil kolaborasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK ITB) di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB bersama Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Ikatan Alumni ITB (IA ITB), Rumah Amal Salman (RAS), Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, serta Yayasan LAPI ITB.
Penempatan alat ini berada di kawasan Taman Krueng Langsa dengan sumber air baku dari Sungai Krueng Langsa dan telah dikoordinasikan dengan satuan penanganan bencana setempat. Kemudian air bersih tersebut akan didistribusikan ke posko-posko pengungsi dengan mobil tangki.
Direncanakan, IPA Mobile akan beroperasi di Aceh selama dua hingga 3 bulan ke depan dan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih untuk masyarakat yang telah terkena dampak bencana serta mendukung pemulihan di wilayah tersebut.
(itb.ac.id)













