Islam Itu Indah, Edisi 26 Ramadan 1447 H
Banjarmasin, mu4.co.id – Ibadah puasa menjadi momen untuk menahan diri dari perkataan sia-sia dan dusta, sebab puasa mengajarkan agar mampu menjaga lisan. Mengapa begitu?
Ibadah puasa di bulan Ramadan tidak hanya mengajarkan umat Islam untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih diri menjaga perilaku, termasuk menahan diri dari perkataan dusta dan sia-sia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras bagi orang yang berpuasa namun masih gemar berkata dusta. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)
Hadis tersebut menjadi peringatan keras dari Allah, sampai-sampai Allah berfirman, Allah tidak butuh pada puasa seseorang, selama ia tidak meninggalkan perkataan dusta. Jadi sia-sia saja berpuasa, bila tetap suka berbohong.
Baca juga: Islam Itu Indah 25: Meraih Lailatul Qadar dengan Memperbanyak Ibadah dan Doa di Penghujung Ramadan
Adapun larangan berdusta sendiri tidak hanya berlaku saat berpuasa. Seorang muslim seharusnya menjaga lisannya dalam setiap keadaan. Hal tersebut seperti kisah Abdullah bin Jarâd Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam, “Wahai Nabi, Apakah seorang mukmin itu mungkin berdusta?” lalu Rasul menjawab: “Tidak mungkin!”.
Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam melanjutkan dengan membaca ayat Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 105:
اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya yang mengadakan kebohongan ialah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka adalah orang yang pendusta.” (QS An-Nahl ayat 105).
Oleh karena itu, pembohong bukanlah sifat seorang muslim. Identitas mutlak yang harus dimiliki seorang muslim adalah sifat jujur. Karena Julukan Nabi Muhammad adalah Al-Amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya atau terpercaya.
Gelar ini diberikan oleh penduduk Mekkah kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam bahkan jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi artinya beliau sudah terkenal dengan kejujuran, integritas, dan sifat Amanah, sehingga beliau disegani. Beliau juga tidak pernah berbohong atau berkhianat, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Kejujuran itu mencerminkan sifat terpuji dan utama yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Wallahu a’lam Bisawwab.
Dengarkan Program “Islam Itu Indah” Edisi Ramadhan, setiap hari hanya di Radio Suara Al Jihad Banjarmasin, FM 105,1 Megaherzt.















