Orlando, mu4.co.id – Satelit Nusantara Lima (SNL) milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) berhasil mencapai tahap penting. Boeing sebagai mitra peluncuran telah berhasil menangkap sinyal dari satelit itu, hal ini disampaikan langsung oleh CEO PSN, Adi Rahman Adiwoso
“Signal acquired. Artinya, sinyal satelit sudah diterima oleh Boeing. Komando bisa terima telemetri, so everything looks so far so good,” ungkap Adi saat di Rosen Center, Orlando, dikutip dari detik inet, Ahad (14/9).
Adi menjelaskan, satelit kini dalam kondisi stabil dengan telemetri menunjukkan komunikasi awal berjalan sukses. Tahap berikutnya adalah memastikan orbitnya berada di posisi nominal sebelum dilakukan reorientasi posisi dan penyalaan chemical rocket, meski waktu pastinya belum ditentukan.
Adi menuturkan, tiga minggu pertama setelah peluncuran menjadi fase krusial yang mencakup reorientasi satelit serta pembukaan komponen utama, termasuk antena dan panel sayap.
“Beberapa hari kemudian, wing-nya dibuka dan semuanya dibuka. Baru berjalan ke orbit,” sambungnya. Tahap tersebut menjadi momen penting yang akan menentukan keberhasilan satelit mencapai orbit stasioner.
Perjalanan Satelit Nusantara Lima menuju orbit stasioner di 113° BT diperkirakan memakan waktu 125 hari. Dalam 30 hari pertama, PSN bersama Boeing akan melakukan pemantauan ketat 24 jam untuk memastikan pembukaan antena dan manuver orbit berjalan lancar.
Setelah fase kritis ini, satelit tetap dipantau hingga 115 hari ke depan dan ditargetkan beroperasi penuh pada 1 April 2026.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyatakan, peluncuran SNL ini akan memperkuat konektivitas digital nasional sekaligus memperluas akses layanan digital ke seluruh daerah.
“Satelit Nusantara Lima adalah jembatan yang menghubungkan Indonesia tanpa batas,” ujar Meutya.
Baca Juga: Profil Nia, Engineer Asal Indonesia Pembuat Satria Satelit-1
“Internet cepat bukan hanya soal teknologi, tapi soal kesempatan yang sama. Anak-anak di Maluku dan Papua akan punya akses belajar yang sama dengan anak-anak di Jakarta, pasien di pulau kecil bisa konsultasi dengan dokter terbaik, dan UMKM kita bisa bersaing di dunia digital. Inilah makna pemerataan digital yang sesungguhnya,” jelasnya.
Dengan kapasitas 160 Gbps, Satelit Nusantara Lima menjadi satelit komunikasi terbesar di Asia Tenggara. Peluncurannya menjadi tonggak baru setelah Palapa A1 (1976), Nusantara Satu (2019), dan SATRIA-1 (2023).
Kehadiran SNL diharapkan memperkuat layanan pendidikan jarak jauh, kesehatan digital, UMKM berbasis daring, hingga akses informasi di pelosok, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai penyedia dan pengelola satelit serta pusat konektivitas digital.
(Detik inet, Antara)












