Media Utama Terpercaya

3 Februari 2026, 23:27
Search

Hebat! Mahasiswa UMS Unjuk Inovasi Keamanan Siber Global, Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Konferensi Black Hat Dunia

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Mahasiswa UMS Unjuk Inovasi Keamanan Siber Global
Mahasiswa UMS Unjuk Inovasi Keamanan Siber Global [Foto: news.ums.ac.id]

Solo, mu4.co.id – Mahasiswa Teknik Informatika Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Bayu Fedra Abdullah (25) sukses menorehkan namanya di panggung keamanan siber global dengan perangkat lunak atau tools buatannya.

Pemuda asal Kota Solo itu menjadi satu-satunya pembicara dari Indonesia dalam ajang bergengsi Black Hat Middle East and Africa (MEA) di Riyadh, Arab Saudi, pada Selasa-Kamis (2-4/12/2025), dan di Black Hat Europe di London, Inggris, pada Senin-Kamis (8-11/12/2025).

Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS, Ahmad Kholid Alghofari, menilai keikutsertaan mahasiswa UMS dalam konferensi Black Hat merupakan pencapaian strategis.

“Konferensi ini dikenal sebagai platform global untuk pertukaran pengetahuan tentang cybersecurity. Keikutsertaan ini tidak hanya memperkuat reputasi institusi UMS, tetapi juga membuka peluang kolaborasi internasional,” ujar Kholid, Senin (19/01/2026).

Kholid menambahkan kampus berkomitmen memberikan dukungan penuh melalui identifikasi potensi dan fasilitasi mahasiswa. Agar prestasi serupa dapat berkelanjutan, ia mengatakan akan terus konsisten memberikan apresiasi nyata berupa insentif bagi mahasiswa yang berprestasi.

“DKPTI berkomitmen meningkatkan partisipasi mahasiswa baik ajang lomba maupun rekognisi segala bidang, dari skala nasional sampai internasional,” katanya.

Baca juga: Mobil Hidrogen Falcon 3.0 Antar Tim ITS Sabet Juara Shell Eco-marathon Qatar 2026

Adapun kedua tools ciptaan Fedra tersebut yaitu Internet Protocol Threat Intelligence (IPTI), dan Most Basic Penetration Testing Lab (MBPTL), yang lahir dari keresahan dan kebutuhan praktis di dunia kerja profesional yang telah ia geluti selama kurang lebih 10 tahun.

Fedra menjelaskan IPTI dirancang untuk menilai dan memahami risiko dari alamat IP. Alat ini bekerja dengan mengagregasi data dari berbagai platform intelijen ancaman (threat intelligence), mendeteksi penggunaan VPN, Proxy, jaringan TOR, hingga menganalisis Autonomous System Number (ASN), dan geolokasi.

“Tugas itu sangat repetitif. Biasanya orang hanya mengecek di platform umum yang sudah ada. Tapi saya merasa itu mudah diakali. Akhirnya saya membuat IPTI untuk mengotomasi proses tersebut dengan akurasi yang lebih tinggi,” ujar Fedra.

Sementara itu, inovasi kedua yaitu MBPTL, yang lahir dari kepedulian Fedra terhadap dunia pendidikan keamanan siber. Selama ini, pemula yang ingin belajar penetration testing (pentest) kerap disarankan menggunakan platform Damn Vulnerable Web App (DVWA). Namun, Fedra menilai platform tersebut memiliki kesenjangan yang terlalu jauh dengan kebutuhan industri.

“DVWA hanya fokus pada satu domain, sedangkan keamanan siber itu sangat luas. MBPTL saya buat untuk menutup gap itu dengan mencakup 10 domain dasar secara komprehensif,” jelasnya.

Kedua tools ciptaannya itupun kini bersifat open source, yang artinya dapat diakses dan digunakan publik secara gratis. “Ke depan, saya ingin lebih aktif berkontribusi di komunitas dan menargetkan bisa menjadi pembicara di dua region Black Hat lainnya, yakni Amerika Serikat dan Asia,” pungkas Fedra.
(news.espos.id)

[post-views]
Selaras