Jakarta, mu4.co.id – Salah satu kekhawatiran masyarakat ke mal adalah harga barang yang cenderung mahal, sehingga identik dengan tempat untuk kalangan menengah ke atas. Padahal, mal pertama di Indonesia yakni Sarinah, sejak awal mengusung konsep inklusif dengan harga terjangkau dan hingga kini tetap bertahan serta direnovasi, meski kisah dan filosofinya belum banyak diketahui.
Pembangunan Sarinah di Jakarta Pusat berkaitan dengan ambisi Presiden Soekarno mewujudkan proyek mercusuar pada era 1960-an agar Indonesia tampil bergengsi di mata dunia, terutama menjelang Asian Games 1962. Meski demikian, proyek tersebut berjalan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil dan inflasi yang tinggi.
Meski ekonomi belum stabil, Soekarno tetap menggagas berbagai proyek pembangunan termasuk Hotel Indonesia, Gelora Bung Karno, dan mal pertama di Indonesia, Mal Sarinah.
Menurut seorang budayawan Indonesia, Rosihan Anwar, Soekarno mendirikan mal tersebut sebagai upaya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sandang dan pangan.
Baca Juga: Sejarah Jembatan Pertama dan Tertua di Indonesia, Disini Lokasinya!
Mal yang dirancang berorientasi pada ekonomi sosialis, menjadi etalase untuk produk dalam negeri terutama hasil pertanian dan industri dengan harga terjangkau agar berfungsi sebagai penstabil harga.
“Kalau di department store harganya cuma Rp50, di luar department store, orang tidak berani menjual Rp100,” ujar Soekarno memberikan contoh bahwa harga murah di mal pasti akan diikuti pasaran, dituliskan ulang oleh R. Soeharto dalam Saksi Sejarah (1984), dilansir dari CNBC, Senin (19/1).

Mal pertama di Indonesia ini resmi mulai dibangun pada 17 Agustus 1962 dan diberi nama “Sarinah”, yang diambil dari nama pengasuh Soekarno semasa kecil. Soekarno berharap Sarinah akan menjadi simbol perkembangan bangsa.
Meski kondisi ekonomi memburuk, pembiayaan Sarinah bersumber dari dana pampasan perang Jepang, dengan kontraktor asal Jepang dan rancangan arsitek Denmark. Soekarno sendiri saat itu menjabat sebagai Presiden Direktur PT Departemen Store Indonesia “Sarinah” dan memantau langsung pembangunannya.
Baca Juga: Bea Cukai Era Soeharto Ternyata Pernah Dibekukan! Ini Alasannya!
Sarinah resmi dibuka pada 17 Agustus 1966 dan mencatat sejarah sebagai mal serbaneka pertama, sekaligus mal pertama di Asia Tenggara yang memiliki pendingin udara dan eskalator.
Pada awalnya, Sarinah menjadi etalase produk dalam negeri dengan harga terjangkau. Namun, setelah Soekarno lengser pada 1967 dan arah ekonomi berubah, konsep harga murah itu mulai ditinggalkan.
Seiring waktu, mal-mal lain bermunculan dan cita-cita menjadikan mal sebagai pusat barang terjangkau kian sulit terwujud, meski sejarah Sarinah tetap menjadi catatan penting perkembangan pusat perbelanjaan di Indonesia zaman dulu.
(CNBC)


![Menteri Luar Negeri Sugiono [kiri] menyerahkan piala kepada Direktur Pemberitaan ANTARA Virgandhi Prayudantoro [tengah] dalam acara PPTM 2026](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_5712-300x200.jpeg)





![Mal Sarinah sesudah renovasi [2022]](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260119-WA0021-300x200.jpg)






![Menteri Haji dan Umrah [Menhaj] RI Mochammad Irfan Yusuf](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_5750-1-300x169.jpeg)