Jakarta, mu4.co.id – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di kantor pusat Jakarta. Pertemuan dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A Mughni, serta perwakilan Lembaga Hubungan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah pada Selasa (7/4).
Haedar menyampaikan duka atas konflik dan tragedi kemanusiaan di Iran, sekaligus berharap perang di berbagai wilayah dunia segera berakhir demi kemanusiaan dan perdamaian.
“Bagi kami peristiwa atau tragedi ini bukan menyangkut Iran sebagai entitas bangsa atau negara yang semata mata Islam, tapi jauh lebih daripada itu Iran yang merdeka dan berdaulat,…. semua berhak hidup damai, tanpa serangan oleh siapapun atas nama apapun,” ujar Haedar dikutip dari laman Muhammadiyah, Kamis (9/4).
Ia menyebut perang dan agresi militer tidak hanya merusak negara, tetapi juga menghancurkan peradaban. Ketidakmampuan hukum internasional menghentikannya mencerminkan kemunduran peradaban modern.
Baca Juga: Media Iran Umumkan Pemimpin Tertinggi Khamenei Meninggal Akibat Serangan AS–Israel
“Maka PP Muhammadiyah menyampaikan simpati, kepedulian, dan juga menyampaikan keprihatinan, sekaligus juga kami percaya Iran mampu keluar dari tragedi yang merusak peradaban ini dan nanti tumbuh menjadi negara yang kuat,” lanjut Haedar.
Ia menyatakan kondisi Iran saat ini menjadi sinyal bahwa negara Islam mampu bangkit, memberi manfaat bagi dunia, dan akan semakin kuat menghadapi tantangan global.
Sementara itu, Mohammad Boroujerdi juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Muhammadiyah kepada Iran.
Ia menjelaskan serangan pada 28 Februari 2026 menargetkan rumah dinas dan tempat kerja Ayatullah Khomeini serta lembaga pendidikan di Kota Minab yang menewaskan ratusan siswa.
“Tentunya ini membawa pesan khusus bagi kita semua. Pesan tersebut dengan serangan ganas ingin menjelaskan bahwa yang dihadapi tidak lagi peduli anak-anak atau manusia usia lanjut,” ujarnya.
Ia menilai serangan terhadap warga sipil menunjukkan ambisi Israel dan Amerika Serikat untuk menaklukkan negara berdaulat dengan cara kejam, hingga mengabaikan etika dan hukum internasional serta merusak fasilitas publik dan lingkungan.
Melalui pertemuan ini, Syafiq A. Mughni menegaskan bahwa kesamaan pandangan antara Muhammadiyah dan Iran untuk menolak penindasan, melawan kezaliman serta penjajahan, dan bersama-sama memperjuangkan keadilan.
“Kezaliman dalam bentuk apapun harus kita lawan, dan kita tegakkan bersama-sama keadilan. Dan masyarakat sudah tahu negara mana yang banyak melakukan kezaliman di dunia ini,” ucap Syafiq.
Baca Juga: Dua Kampus Iran Hancur, Iran Ancam Balas dengan Menargetkan Universitas AS
Syafiq mengajak seluruh bangsa, khususnya masyarakat Indonesia, membangun gerakan anti perang serta menumbuhkan kesadaran global untuk mencintai perdamaian dan menjauhi kekerasan.
“Kita anti perang dan karena itu siapapun yang mulai melakukan peperangan maka harus dihukum secara bersama-sama, baik secara moral, etik, maupun dalam hubungan internasional,” tuturnya.
Sementara itu, Kanselir Pendidikan dan Kebudayaan Kedubes Iran, Yahya Jahan Giri, mengapresiasi langkah strategis Muhammadiyah dalam mendorong perdamaian dan gerakan anti perang.
Ia menilai Muhammadiyah memiliki pengaruh global, posisi penting dalam persatuan dunia Islam, serta berpotensi berperan dalam upaya perdamaian, termasuk terkait konflik di Iran.
Ia menilai langkah bijak yang bisa segera dilakukan Muhammadiyah adalah memberikan edukasi dan penjelasan kepada masyarakat dunia mengenai situasi yang sedang dialami Iran.
(Muhammadiyah)


![Ketua Umum Pimpinan Pusat [PP] Muhammadiyah Haedar Nashir](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_7604-300x200.jpeg)









![Ruang Terbuka Hijau [RTH] modern di kawasan bekas kantor Disnakertrans Palangka Raya](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_20260412_211712-300x175.jpg)


