Media Utama Terpercaya

29 November 2025, 17:46
Search

Dua Siswi Berprestasi Ciptakan Alat Ini Untuk Cegah Keracunan MBG

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Alat pendeteksi makanan basi
Alat pendeteksi makanan basi [Ompreng]. [Foto: ccc.ommunity, mu4.co.id]

Cilacap, mu4.co.id – Dua siswi SMA Negeri 2 Cilacap menciptakan inovasi kotak makan pintar yang bisa mendeteksi makanan basi untuk mencegah keracunan. Kotak makan pintar ini dinamai Ompreng, inovasi ini dipakai oleh pihak sekolah untuk mengecek menu MBG yang akan dimakan oleh para siswa.

Inovasi ini digagas oleh Alya Meisya N (16) dan Felda Triana W (16), siswi kelas XI jurusan fisika-matematika, mereka merasa prihatin terhadap meningkatnya kasus keracunan makanan, termasuk insiden dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kami membuat alat ini karena prihatin dengan banyaknya kasus keracunan. Ompreng bisa mendeteksi makanan basi, khususnya makanan MBG yang dibagikan di sekolah,” ujar Alya dikutip dari laman wartakota, Ahad (5/10).

Baca juga: Banyak Kasus Keracunan MBG, Presiden Prabowo Perintahkan BGN Rekrut Koki Terlatih. Dibuka Lowongan Puluhan Ribu Koki!

Ompreng memiliki bentuk seperti kotak makan dilengkapi dengan sensor khusus di bagian tutup yang dapat menunjukkan kondisi makanan dalam bentuk indikator digital.

Cara penggunaan ompreng ini yaitu sampel makanan dimasukkan ke dalam kotak, kemudian di tutup, dalam waktu 3-5 menit, sensor akan membaca hasilnya. Jika angka indikator melebihi batas aman, maka alat akan memberikan peringatan.

Untuk makanan hewani terdeteksi melalui sensor MQ135, sedangkan untuk makanan nabati memggunakan sensor MQ3.

  • Daging dinyatakan aman jika indikator berada di angka 100-400, sementara makan sudah basi jika indikator mendekati angka 1.000.
  • Buah dan sayuran aman di angka 100-500, jika di atas angka itu berarti sudah mengandung gas yang menandakan kebusukan.

Selain itu, Ompreng juga bisa terkoneksi secara daring melalui aplikasi Blynk loT berbasis android, sehingga hasil pemeriksaan dapat dipantau lewat ponsel. “Koneksinya lewat Wi-Fi, jadi bisa ditinggal dan dipantau lewat HP,” jelas Alya di kutip dari laman tintahijau, Ahad (5/10).

Ompreng menggunakan kombinasi sensor perubahan suhu, warna, dan gas pada sampel makanan untuk mengetahui kondisi makanan tersebut. Alya dan Felda berencana terus mengembangkan alat ini sehingga dapat mendeteksi bakteri berbahaya.

“Jadi alat ini mendeteksi gas yang keluar. Masih mau disempurnakan lagi biar bisa mendeteksi berbagai macam bakteri di antaranya E. Coli dan Salmonella,” ujar Alya.

Berkat inovasi ini, mereka meraih juara kedua dalam ajang AHM Best Student (AHMBS) Regional Jateng-DIY 2025 yang diselenggarakan oleh Astra Honda Motor pada 11-23 September yang lalu secara daring.

Baca juga: Kawal Program MBG Lewat Kanal Aduan, Begini Caranya!

Kepala SMA Negeri 2 Cilacap, Masripah, mendukung dan mengaprisiasi inovasi tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa sekolah telah mulai menggunakan ompreng untuk mengecek MBG yang akan dibagikan kepada siswa.

“Kalau hasil pengecekan menunjukkan tidak layak, pembagian makanan langsung dihentikan demi keamanan anak-anak,” tegasnya.

Alya dan Felda berharap inovasi mereka ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia. “Kami ingin ompreng bisa membantu mengurangi kasus keracunan makanan di tanah air,” ujar Felda.

(Wartakota, tintahijau)

[post-views]
Selaras