Media Utama Terpercaya

14 Januari 2026, 17:00
Search

Demo Dimana-mana dan Mata Uang Iran Anjlok Hingga $0. Apa Penyebabnya?

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Demo dan krisis besar-besaran terjadi di Iran
Demo dan krisis besar-besaran terjadi di Iran. [Foto: Iran Internasional]

Iran, mu4.co.id – Krisis ekonomi telah lama terjadi di Iran sampai akhirnya mencapai titik krisis setelah nilai mata uang nasional (rial) jatuh ke level terendah sepanjang sejarah sampai 0 dolar AS. Barang-barang kebutuhan dasar menjadi tidak terjangkau.

Karena ini terjadilah kerusuhan mulai dari pedagang, mahasiswa, pekerja, dan kelompok lain yang melakukan demo tidak hanya terkait persoalan ekonomi, tetapi juga perubahan sistem Republik Islam yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Ketika nilai rial jatuh, harga barang impor melonjak, bahkan Iran banyak mengimpor barang penting seperti gandum, minyak goreng, dan bahan baku obat-obatan yang mengakibatkan pedagang menaikkan harga barang pokok sangat mahal. Selain itu, lima tahun kekeringan merusak produksi pangan lokal, sehingga Iran semakin bergantung pada impor yang mahal.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), diperkirakan pada 2025 terjadi inflasi mencapai rata-rata 42 persen, naik dari 2024 yang hanya 33 persen akibatnya banyak warga Iran yang kesulitan makan. Media lokal melaporkan pada 2022 bahwa setengah dari penduduk Iran mengkonsumsi kalori harian di bawah standar minimum.

Baca juga: Israel Serang Qatar. Iran Kecam Sebut Langgar Aturan Internasional!

Kemarahan juga terjadi karena polusi yang parah, kekurangan gas dan listrik, dan pengelolaan sumber daya alam yang buruk. Bahkan pada Desember, pemerintah mengubah sistem subsidi bahan bakar, menaikkan harga bensin dan menambah beban biaya bagi rumah tangga dan bisnis.

Nilai rial sudah tertekan selama bertahun-tahun akibat sanksi Barat dan korupsi. Pada 2025, rial melemah sekitar 45 persen terhadap dolar AS. Turunnya harga minyak dunia juga mengakibatkan ekonomi Iran terpukul, harga minyak Brent turun sekitat 18 persen pada 2025 menjadi sekitar 60 dolar AS per barel. Padahal menurut IMF, agar anggaran Iran seimbang, diperlukan harga sekitar 165 dolar AS per barel.

Masalah lain juga adalah sistem kurs mata uang yang berlapis-lapis, sehingga memberikan nilai tukar khusus untuk impor barang tertentu bagi pihak-pihak tertentu yang memicu korupsi.

Sanksi AS dan sekutunya juga jadi penyebabnya, dimana sebagiann besar pihak asing tidak dapat membeli minyak Iran secara bebas. Padahal cadangan minyak yang dimiliki Iran sangat besar, akhirnya sebagian minyak tersebut dijual ke China dengan perdagangan tidak resmi dan harga diskon besar karena sanksi.

Baca juga: Warga AS Kecam Langkah Donald Trump Yang Putuskan Serang Iran, Ini Alasannya!

Pertama kali sanksi ini diberlakukan setelah Revolusi Islam 1979 dan kemudian diperluas dengan alasan menekan program nuklir Iran, akibatnya banyak perusahaan internasional yang hengkang dan investasi asing tidak masuk ke Iran. Industri dalam negeri juga melemah karena korupsi dan salah kelola, infrastruktur negara rusak, pertanian terhambat oleh sistem yang tidak efisien dan kekurangan air.

Dilansir dari kumparan, Rabu (14/1), Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan demo tuntutan tersebut sah dan meminta aparat untuk tidak menyerang demonstran yang damai. Untuk pertama kalinya, pemerintah mengakui secara terbuka bahwa kondisi negara sedang buruk karena kesalahan pengelolaan, selain sanksi, memperparah situasi Iran.

Selama hampir 50 tahun pemerintahan teokratis, warga Iran mengalami perang, pembatasan kebebasan sosial, kemiskinan, pengangguran yang akhirnya membuat jutaan warga memilih migrasi karena menganggap pemerintah tidak dapat memperbaiki hidup mereka.

Menanggapi hal itu, pemerintah menyatakan akan menghapus subsidi valuta asing yang dianggap memicu korupsi, dan akan meningkatkan subsidi sehingga barang kebutuhan dasar terjangkau. Jika hal ini gagal, maka akan menimbulkan dua ancaman yakni rakyat yang semakin gelisah dan tekanan dari kekuatan asing.

(kumparan)

[post-views]
Selaras