Banjarmasin, mu4.co.id – Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar, menyebut terjadi lonjakan sampah di Banjarmasin yang dipicu keterbatasan kapasitas pengiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjarbakula yang hanya mampu menampung sekitar 200 ton per hari.
Situasi memburuk saat operasional TPA sempat dihentikan, sehingga distribusi sampah terhenti dan menimbulkan penumpukan di berbagai titik penampungan sementara.
“Kalau TPA tidak beroperasi, sampah otomatis tidak bisa dibuang, itu yang membuat TPS jadi penuh,” ungkap Ichrom Muftezar dikutip dari Kalimantan Pos (5/4).
Baca Juga: DLH Kalsel Bagikan 2.000 Lebih Fasilitas Pengelolaan Sampah. Dimana Saja?
Di tengah kondisi tersebut, Tezar menyatakan pihaknya segera berkoordinasi lintas tim dan memastikan layanan tetap berjalan sesuai arahan Wali Kota Banjarmasin.
Namun, ia menilai penanganan sementara tidak cukup menyelesaikan masalah, sehingga dibutuhkan solusi jangka panjang yang menyasar akar persoalan. Salah satunya adalah perubahan perilaku warga, khususnya memilah sampah dari rumah. Masyarakat diajak tidak lagi membuang sampah organik ke TPS, tetapi mengelolanya secara mandiri.
Penguatan peran Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) juga terus dilakukan dengan 17 unit sudah beroperasi dan dua lainnya masih dikembangkan. Pemerintah turut menambah fasilitas seperti rumah cacah dan rumah pilah untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan di Banjarmasin.
Meski demikian, pengelolaan sampah masih rendah, dengan baru sekitar 21,36 persen sampah tertangani secara baik, menunjukkan keterbatasan sistem dan partisipasi masyarakat.
Baca Juga: DPR RI Serahkan Program LSDP untuk Pengelolaan Sampah Banjarmasin Senilai Rp150 Miliar
“Masalah sampah ini tidak bisa hanya dibebankan ke pemerintah, kesadaran masyarakat sangat penting, terutama untuk tidak membuang sampah sembarangan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj Ananda juga sempat mengimbau masyarakat agar mengurangi sampah. Hal ini ia sampaikan pada acara safari dakwah “Gerakan Perempuan Mengaji” yang digelar oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Kalsel Majelis Tabligh dan Ketarjihan, bertempat di Masjid Al Jihad Banjarmasin, pada 29 Maret lalu.
Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat di luar negeri yang jarang menyediakan tempat atau bak sampah sebagai cara meminimalisir hasil sampah. Ia berharap warga Banjarmasin dapat secara bertahap menerapkan kebiasaan serupa.
“Di luar negeri kenapa ngga disiapkan banyak bak sampah? Karena supaya mengurangi sampah. Jadi, ingat pesan saya ya (untuk memilah dan tidak membuang sampah sembarangan),” ujar Ananda.
(Kalimantan Pos)












