Media Utama Terpercaya

10 Maret 2026, 09:48
Search

Antisipasi Krisis Energi Akibat Konflik Timur Tengah, Filipina Pangkas Jam Kerja Jadi 4 Hari

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr. Putuskan Pangkas Jam Kerja Jadi 4 Hari
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr. Putuskan Pangkas Jam Kerja Jadi 4 Hari [Foto: voi.id]

Filipina, mu4.co.id – Pemerintah Filipina memutuskan untuk mengurangi jam kerja kantor menjadi 4 hari mulai 9 Maret 2026, sebagai upaya menghemat energi karena ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga bahan bakar global lebih tinggi.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr. menyebut kebijakan itu tidak berlaku untuk pelayanan darurat termasuk polisi, petugas pemadam kebakaran, dan lembaga lain yang memberikan layanan garda depan kepada masyarakat. Meski demikian kebijakan minggu kerja yang lebih pendek itu bersifat sementara.

“Mulai Senin, 9 Maret, kami akan sementara menerapkan kerja empat hari seminggu di beberapa kantor cabang eksekutif. Ini tidak berlaku untuk layanan darurat atau esensial,” kata Marcos, Senin (09/03/2026).

Di samping itu, Marcos juga memerintahkan semua lembaga pemerintah untuk mengurangi penggunaan listrik dan biaya bahan bakar 10-20%.

“Semua perjalanan dan kegiatan pemerintah yang tidak penting juga dilarang sementara, seperti studi banding, kegiatan membangun tim, atau pertemuan yang dapat dilakukan secara daring,” kata Marcos.

Baca juga: Panglima TNI Tetapkan Siaga 1 untuk Seluruh Prajurit, Ini 7 Perintahnya!

Filipina sendiri secara luas dipandang oleh para ekonom sebagai salah satu negara yang paling rentan di kawasan Asia-Pasifik terhadap inflasi dan risiko pertumbuhan yang dipicu oleh konflik Timur Tengah.

“Negara ini cenderung mengalami dampak inflasi yang lebih kuat karena harga bahan bakar ritel lebih didorong oleh pasar dan subsidi terbatas,” kata Deepali Bhargava, Kepala Riset Regional di ING Bank NV.

Diketahui, Filipina mengimpor hampir semua kebutuhan minyaknya, karenanya Filipina tentu akan terdampak dan memicu inflasi yang telah mencapai level tertinggi dalam 13 bulan pada Februari.

“Saudara-saudaraku, kita tidak tahu kapan kekacauan di Timur Tengah akan berakhir. Kita adalah korban perang yang tidak kita pilih dan tidak kita inginkan. Kita tidak dapat mengendalikan perang, tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita akan melindungi rakyat Filipina,” pungkas Marcos.
(detik.com)

[post-views]
Selaras