Jakarta, mu4.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini disorot bukan karena konsepnya, tetapi komposisi anggarannya yang dinilai fokus pada pengadaan barang dibanding penyediaan makanan gratis kepada masyarakat.
Data menunjukkan porsi besar justru terserap untuk belanja lain, mulai dari kendaraan, perangkat teknologi, hingga kebutuhan penunjang.
Dilansir dari Serambi News pada Sabtu (11/4), pos terbesar adalah pengadaan kendaraan senilai Rp1,39 triliun. Dari total tersebut, sekitar Rp1,2 triliun untuk sepeda motor listrik yang dibeli melalui sistem e-Katalog 6.0 dari perusahaan Yasa Artha Trimanunggal dengan merek Emmo Mobility.
Baca Juga: Puluhan Ribu Motor Listrik Disiapkan Untuk Kepala SPPG. Ini Tanggapan Menkeu dan BGN!
Terdapat dua tipe yang dibeli, yakni JVH Max seharga Rp49,95 juta per unit dan JVH GT Rp48,84 juta per unit, yang sudah termasuk layanan distribusi ke berbagai daerah.
Setelah kendaraan, anggaran terbesar berikutnya untuk operasional SPPG sebesar Rp1,26 triliun. Selain itu, pengadaan perangkat keras dan komputer juga menyerap dana besar mencapai Rp830,1 miliar, termasuk pembelian tablet senilai Rp508,4 miliar.
Salah satu perangkat yang tercatat adalah Samsung Galaxy Tab Active 5 dengan harga e-katalog sekitar Rp17,93 juta per unit, sementara harga pasar disebut hanya Rp9–12 juta. Selisih ini menimbulkan sorotan soal efisiensi belanja.

Selain itu, anggaran pakaian tercatat mencapai Rp623,3 miliar yang mencakup seragam, sepatu, hingga berbagai aksesori. Salah satu pos yang menonjol adalah belanja kaos kaki senilai Rp6,9 miliar.
Pengadaannya melalui PT Gajah Mitra Paragon dengan nilai sekitar Rp3,4 miliar untuk beragam jenis kaos kaki, dengan harga Rp34.999 hingga Rp100.000 per pasang. Khusus kaos kaki lapangan, anggaran mencapai Rp1,7 miliar atau sekitar 17.000 pasang.
Selain belanja aset, dana pelatihan dan sosialisasi juga cukup besar, mencapai Rp464,6 miliar untuk peningkatan kapasitas SDM pelaksana program.
Baca Juga: MBG Dinilai Angkat Ekonomi Pegawai, BGN: 60% Pegawai SPPG Mampu Beli Motor
Namun, anggaran untuk penyediaan makanan yang menjadi inti program justru paling kecil, yakni hanya Rp242,8 miliar.
Ketimpangan ini memicu kritik karena program pemenuhan gizi justru mengalokasikan dana lebih besar pada aspek pendukung dibanding tujuan utamanya.
Hal tersebut memunculkan perdebatan soal prioritas kebijakan. Meski kebutuhan operasional penting, publik menilai proporsinya perlu dievaluasi karena anggaran makanan bergizi justru paling kecil.
(Serambi News)







![Rapat persiapan Lomba Desain Motif Sasirangan [LDMS] 2026](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_8602-300x196.jpeg)






