Media Utama Terpercaya

15 Oktober 2026, 13:23
Search

Hujan Turun di Langit Makkah Membuat Salat Isya di Masjidil Haram Semakin Syahdu

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Hujan di Masjidil Haram
Hujan di Masjidil Haram [Foto: mu4.co.id]

Makkah, mu4.co.id — Malam itu, Rabu (14/10/2026) menjelang azan Isya, suasana di pelataran Masjidil Haram tak seperti biasanya. Angin berembus sedikit lebih kencang, membawa aroma tanah basah yang dirindukan di tanah para nabi ini. Di tengah ribuan jemaah yang sedang beribadah dan bersiap menunaikan sholat Isya, langit Makkah mendadak bergemuruh.

Tiba-tiba, kilatan petir menyambar di antara Menara Jam (Clock Tower Zamzam), membelah kegelapan malam dan menyinari kubah serta pelataran masjid dalam sekejap. Tak lama kemudian, bulir-bulir air hujan mulai jatuh—awalnya pelan, lalu berubah menjadi guyuran deras yang membasahi lantai marmer putih Mataf.

Saat berada di antara ribuan jemaah di sana malam itu, ada sensasi syahdu yang sulit dilukiskan. Hujan di Makkah adalah peristiwa langka, dan ketika ia turun di rumah Allah menjelang Isya, suasana langsung berubah menjadi begitu sakral dan haru.

Tangan-Tangan yang Terangkat di Bawah Kucuran Rahmat
Bukannya berlari mencari tempat berteduh, tak sedikit jemaah yang justru melangkah mendekati Ka’bah. Sambil membiarkan tubuh dan pakaian ihram mereka basah kuyup oleh air hujan, ribuan jemaah secara serentak mengangkat kedua tangan mereka tinggi-tinggi ke langit.

“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat dan keberkahan…”

Isak tangis bahagia membuncah di beberapa sudut. Di bawah guyuran hujan yang dingin, suasana terasa begitu hangat oleh doa-doa yang dipanjatkan penuh kekhusyukan. Banyak jemaah yang menyadari bahwa momen ini adalah kesempatan emas, meyakini bahwa waktu turunnya hujan adalah salah satu waktu terbaik dan mustajab dikabulkannya doa.

Lantai pelataran masjid dipel dengan kendaraan khusus (Foto: mu4.co.id)

Keceriaan Anak-Anak: Bermain Air dan Meluncur di Lantai Marmer
Di tengah suasana haru para jemaah dewasa, keceriaan tersendiri terpancar dari wajah anak-anak yang ikut beribadah malam itu. Genangan air tipis di atas marmer Masjidil Haram yang licin dan bersih berubah menjadi “arena bermain” impian mereka.

Dengan gelak tawa yang renyah, anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki, lalu meluncurkan tubuh mereka di atas lantai yang basah—seolah-olah sedang bermain ski di atas es. Keceriaan polos mereka membawa kehangatan tersendiri dan memancing senyum di wajah para jemaah yang menyaksikan. Tak ada teguran, yang ada hanya tatapan bahagia dari orang-orang dewasa yang menikmati momen langka tersebut.

Sholat Isya Berjamaah yang Paling Syahdu
Saat iqamah berkumandang, guyuran hujan turut melengkapi senandungnya, menyisakan hawa sejuk yang menyelimuti seluruh area Masjidil Haram. Lantai pelataran yang basah tak menyurutkan niat para jemaah untuk tetap merapatkan shaf.

Ketika imam mulai membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan penuh penghayatan, suasana seketika hening. Hanya terdengar gema suara imam yang berpadu lembut dengan rintik-rintik gemericik air hujan di lantai pelataran Ka’bah. Suasana sholat Isya malam itu terasa sangat syahdu, meresap jauh ke dalam dada, membawa ketenangan jiwa yang sulit tertandingi di tempat yang paling suci di muka bumi.

Terbersit doa seandainya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkenan menurunkan hujan seperti ini juga di bumi Sumatra dan Kalimantan yang sedang ditutupi kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar setidaknya dapat mengurangi dampak kabut asap yang akhir-akhir ini semakin  merajalela tak terkendali. Sehingga anak-anak sekolah dapat kembali melakukan proses belajar di kelas.

Malam itu bukan sekadar hujan yang mengguyur bumi Makkah, melainkan momen bertemunya rahmat dari langit dan kerinduan hamba kepada Sang Pencipta dalam satu bingkai harapan yang takkan pernah terlupakan.

[post-views]
Selaras