Media Utama Terpercaya

22 Juni 2026, 12:11
Search

Disamping Puasa Asyura’, Kerjakan Tasu’a Sebagai Penyelisih Ibadah Kaum Yahudi

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Puasa Tasua Asyura
Puasa Tasu'a sebagai penyelisih ibadah kaum Yahudi [Foto: ilustrasi mu4.co.id]

Banjarmasin, mu4.co.id – Di bulan Muharram ada amalan puasa yang sangat dianjurkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam yaitu puasa Asyura’ tanggal 10 Muharram.

Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengajak umatnya mengerjakan puasa pada bulan Muharram sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).

Bahkan dahulu orang-orang di Jazirah Arab sudah mengerjakan puasa Asyura’ tanggal 10 Muharram bahkan sebelum Islam datang. Tetapi mereka hanya berpuasa di tanggal 10 Muharram, tidak di tanggal 9 Muharram.  

Baca juga: Selain Puasa Asyura’. Ada Tasu’a, Puasa yang Tidak Kesampaian Dikerjakan Rasulullah. Kapan Waktunya?

Menurut riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah berpuasa Asyura sebelum hijrah ke Madinah. Aisyah Radhiyallahu anha meriwayatkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ[متفق عليه]

“Di masa jahiliah, orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukannya. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap melaksanakan puasa tersebut dan memerintahkan orang lain untuk ikut berpuasa. Namun, setelah puasa Ramadan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa Asyura’ dan bersabda: ‘Barang siapa yang mau, silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak mau, maka tidak mengapa’.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa puasa Asyura’ bukanlah ibadah yang asing bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sudah menjalankannya dan setelah hijrah, beliau tetap meneruskannya, sebelum kemudian memberikan kebebasan kepada umat (sunnah) untuk melaksanakan atau tidak setelah kewajiban puasa Ramadan ditetapkan.

Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati bahwa kaum Yahudi juga berpuasa pada hari Asyura’. Mereka melakukan ini sebagai ungkapan syukur atas penyelamatan Nabi Musa ‘Alaihissalam dari kejaran Firaun. Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu meriwayatkan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Hari apa ini?”

Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari mulia. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil serta menenggelamkan Firaun dan pengikutnya. Musa pun berpuasa sebagai ungkapan syukur, dan kami ikut melaksanakannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.” Kemudian beliau pun berpuasa dan menganjurkan umat Islam untuk melakukannya. (HR Muslim).

Baca juga: Dianjurkan Puasa Tasu’a dan ‘Asyura di Bulan Muharram. Kapan Dikerjakannya?

Lantas apa latar belakang munculnya perintah puasa Tasu’a 9 Muharram?

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu disebutkan:

 حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura` dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa; Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharam).” Namun tahun depan itu pun tak kunjung tiba, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (HR Muslim no.1134)

Hikmah yang tersirat dari mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan hari kesembilan Muharram untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang hanya berpuasa pada 10 Muharram saja. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14).

Perbuatan menyelisihi ibadah kaum Yahudi ini agar tidak tasyabbuh (menyerupai) peribadatan kaum Yahudi.

Hanya saja qadarullah, Allah berkehendak lain. Rasulullah tidak kesampaian menunaikan puasa Tasu’a karena Beliau lebih dulu wafat sebelum tahun depan itu datang. 

Meskipun demikian pesan Rasulullah ini telah menjadi wasiat sejarah yang akan dipegang teguh dan dilaksanakan oleh generasi muslim berikutnya hingga hari kiamat. Sebagai bukti kecintaan dan ketaatan kita kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun Rasulullah belum sempat mengerjakan puasa Tasu’a.  

Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), puasa sunnah Tasu’a (9 Muharram 1448 H) akan dilaksanakan pada hari Rabu, 24 Juni 2026 dan puasa Asyura’ (10 Muharram 1448 H) dilaksanakan pada hari Kamis, 25 Juni 2026.

[post-views]
Selaras