Iran, mu4.co.id – Upaya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum membuahkan hasil. Isu terkait Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menghambat kesepakatan.
Wakil Presiden AS J.D. Vance mengonfirmasi bahwa dirinya kembali tanpa membawa hasil setelah memimpin delegasi dalam perundingan yang berlangsung di Pakistan.
Pembicaraan bahkan berlanjut hingga hari kedua, namun belum menunjukkan titik temu.
Dari pihak Iran, delegasi dipimpin oleh Mohammad Bagher Qalibaf. Sejumlah laporan menyebut perbedaan pandangan terkait status Selat Hormuz menjadi penghalang utama, terutama soal kapan dan bagaimana jalur vital itu dapat kembali dibuka.
Baca juga: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Genjatan Senjata Batal. Ini Sebabnya!
Dikutip dari CNN Indonesia, Senin (13/4), Pejabat Iran menyebut, perubahan status selat hanya akan dilakukan jika kedua negara mencapai kerangka kesepakatan bersama. Iran juga menilai tuntutan dari pihak AS masih terlalu berat.
Di sisi lain, dampak penutupan Selat Hormuz terus terasa di pasar global. Jalur ini diketahui menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga gangguan sedikit saja langsung memicu tekanan pada harga energi dan distribusi logistik internasional.
Presiden Donald Trump sebelumnya mendesak Iran menjamin keamanan pelayaran, terutama setelah kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan. Namun, kesepakatan tersebut dinilai masih rapuh, terutama karena konflik di Lebanon yang melibatkan sekutu Iran belum mereda.
Baca juga: Iran dan AS Gencatan Senjata, Ini 10 Poin Tuntutan Iran yang Disepakati AS!
Ketegangan juga meningkat setelah militer AS menyebut telah mengirim kapal perusak ke kawasan untuk mendukung operasi pengamanan jalur laut. Klaim ini dibantah Iran, yang justru dituding menempatkan ranjau yang dipasang Korps Garda Revolusi Islam Iran di sekitar perairan strategis tersebut.
Dengan situasi yang masih belum pasti, Selat Hormuz tetap menjadi kunci dalam negosiasi. Selama belum ada kesepakatan, risiko gangguan terhadap pasokan energi global masih membayangi.
(CNN Indonesia, Antara)















