Banjarmasin, mu4.co.id – Bimbingan Teknis (Bimtek) pengelolaan organisasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan pengelolaan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) berbasis Satuan Pendidikan Anti Bencana (SPAB) resmi dimulai pada Kamis (25/9), di Swiss-Belhotel Borneo, Banjarmasin, setelah sebelumnya memulai perkenalan pada hari pertama, Rabu (24/9) malam.
Pada hari kedua ini, agenda yang dilakukan ialah pemaparan materi mengenai mandat penanggulangan bencana di Indonesia pasca Muktamar Muhammadiyah, yang dipaparkan oleh Ketua MDMC Pusat, H. Budi Setiawan, ST.

Dalam materi ini, Budi Setiawan menjelaskan terkait bidang-bidang yang ada di Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) PP Muhammadiyah, yakni Mitigasi dan Kesiapsiagaan, Pendidikan dan Pelatihan, Tanggap Darurat dan Rehabilitasi Rekonstruksi, Jaringan Kerjasama, dan Emergency Medical Team (EMT).
Ia juga menyebut resiliensi yang berkemajuan mampu mengurangi ancaman dengan koneksi sosial, menjaga kesehatan, menemukan visi, mengembangkan pikiran positif, dan kerja sama.
Setelah pemaparan tersebut, peserta dibagi ke dalam dua kelas, yakni kelas A, yang diikuti pimpinan MDMC wilayah Kalimantan, mendapatkan materi kajian SWOT organisasi, penyusunan program kerja, hingga presentasi rencana program kerja LRB–MDMC Wilayah 2025–2026 bersama Naibul Umam Eko Sakti, S. Ag., M.Si.
Sementara itu, Kelas B yang diikuti para guru sekolah dasar dan menengah, mendapatkan materi tentang bencana dan dampaknya bagi satuan pendidikan, kebijakan Satuan Pendidikan Anti Bencana (SPAB), pilar-pilar SPAB komprehensif, serta penilaian mandiri SPAB. Seluruh materi di kelas B dipaparkan oleh Budi Santoso, S.Psi., M.K.M.
Dalam pemaparan di Kelas A, Naibul Umam menjelaskan bahwa sebuah organisasi, ketika membahas penanganan bencana, harus memiliki pemahaman yang kuat mengenai berbagai aspek pengurangan risiko bencana.
“Ada lima jenis pengurangan risiko bencana yang harus dikuasai, yakni jumlah korban, kerusakan harta benda, kerusakan sarana dan prasarana, kerusakan sosial ekonomi, luasan wilayah bencana” ujarnya.
Naibul Umam juga menyampaikan materi tentang cara melindungi diri ketika menghadapi ancaman tsunami. Penjelasan tersebut diberikan agar para peserta nantinya dapat meneruskan pengetahuan ini dan melatih masyarakat di lingkungannya masing-masing.
Sementara itu, Budi Santoso yang memberikan materi kepada para guru dengan menekankan pentingnya upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan sekolah. Ia mencontohkan pengurangan risiko bencana gempa bumi.
“Dalam menghadapi gempa, kapasitas sekolah harus ditingkatkan. Caranya dengan memperkuat bangunan agar tidak roboh, sehingga dapat mencegah jatuhnya korban luka maupun jiwa, baik dari siswa maupun guru. Selain itu, warga sekolah juga perlu memahami tanda-tanda dan potensi bencana, misalnya saat musim hujan yang berisiko menimbulkan banjir,” jelasnya.
Setelah penjelasan pemateri dari masing-masing kelas A dan B, peserta diminta untuk berdiskusi secara kelompok. Di kelas A, peserta diminta untuk menyusun rencana program kerja 2025-2026 untuk dipresentasikan. Sementara di kelas B, para peserta diminta untuk menuliskan penilaian mandiri kapasitas sekolah di wilayah masing-masing peserta atau guru.
Bimtek ini masih akan berlanjut hingga 27 September 2025 dengan fokus pada penyusunan rencana aksi komunitas, pembentukan tim siaga bencana sekolah, penyusunan protap, hingga simulasi kebencanaan di sekolah.














