Korea Selatan, mu4.co.id – Di tengah kehidupan modern Korea Selatan, sekitar 45 ribu warga asli negara tersebut diperkirakan telah memeluk agama Islam, terutama dari kalangan muda. Sebagian mengaku menemukan ketenangan dan nilai hidup yang lebih sederhana melalui ajaran Islam.
Salah satunya Yusuf, pria Korea berusia 30-an yang menjadi mualaf sejak 2014. Ia mengatakan kepada media The Korea Times, bahwa sebagian pria Korea tertarik pada Islam karena ingin membangun rumah tangga.
Menurutnya, tekanan budaya kencan di kota besar seperti Seoul membuat sebagian pria memandang pernikahan dalam Islam sebagai pilihan dengan aturan yang lebih jelas dan sederhana.
Ketertarikan warga Korea terhadap Islam juga terlihat di Masjid Pusat Seoul, Itaewon. Setiap bulan, sekitar 5–25 orang mengikuti kelas pengenalan Islam dan berkesempatan mengucapkan syahadat setelah menyelesaikan pembelajaran.
Peserta pengenalan Islam didominasi oleh laki-laki, sementara kalangan perempuan umumnya tertarik pada kesederhanaan ajaran Islam dan konsep keesaan Tuhan.
“Premis dasar Islam tentang satu Tuhan sangat menarik bagi saya. Selain itu, penghormatan Islam terhadap orang tua juga sesuai dengan budaya Korea yang saya kenal sejak kecil,” ungkap Areum, salah satu mualaf perempuan Korea Selatan, dikutip dari MUI Digital, Kamis (15/10).
Areum menilai ajaran Islam tentang menghormati orang tua sejalan dengan nilai kekeluargaan dalam budaya Korea. Kesamaan itu memudahkannya menjelaskan keputusan menjadi mualaf kepada keluarganya. Ia juga mengaku mendapat kesan mendalam saat mengunjungi Masjid Pusat Seoul. Ia merasa seperti menemukan tempat yang selama ini dicarinya.
“Meskipun saya telah tinggal di Korea sepanjang hidup saya, ketika pertama kali datang ke Masjid Seoul, akhirnya terasa seperti saya pulang ke rumah,” kata Areum.
Bagi Areum, Yusuf, dan sejumlah mualaf lainnya, Islam menjadi bagian dari pencarian jati diri dan ketenangan di tengah tekanan kehidupan modern di Korea Selatan.
Yusuf sendiri mulai mengenal Islam melalui teman-teman Muslim di komunitas bahasa Inggris. Meski menjadi Muslim masih dikhawatirkan dapat menimbulkan keterasingan sosial, banyak mualaf justru menemukan dukungan dan rasa kebersamaan dalam komunitas Muslim.
“Semua orang dipersilakan untuk mempelajari Islam, apa pun motivasi awal mereka,” ujar Yusuf.
(MUI Digital)














